Gelar Wacana "Ketika Dunia Menjadi Bisu" di Sanata Dharma
KETIKA DUNIA MENJADI BISU, manusia tentu akan memiliki perspektif dan cara hidup yang berbeda. Dalam mengungkapkan ide atau gagasan, bahasa menjadi kendala utama untuk menyampaikan pesan dari satu orang ke yang lainnya. Kesalahpahaman dan ketidakmengertian bisa menjadi fatal karena keadaan dunia yang membisu. Mungkin bukan hal yang diinginkan, akan tetapi manusia dengan kehendak bebasnya, senantiasa berusaha menemukan cara dalam dunia yang semakin membisu.
Gagasan dasar itulah yang dicoba diangkat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fak. Psikologi Univ. Sanata Dharma Yogyakarta dengan sebuah talkshow sederhana "Ketika Dunia Menjadi Bisu". Digelar hari Minggu (26/09) pagi ini, dari pukul 08.00 - 14.00 WIB, di Lantai 4 Hall Gedung Administrasi Kampus III Paingan Yogyakarta, masyarakat diajak untuk berwacana dalam pengenalan keberadaan dan kehidupan tuna rungu di Yogyakarta, sehingga diharapkan kehidupan para penderita tuna rungu dapat semakin lebih baik dengan adanya pemahaman yang meluas.
Dalam talkshow tersebut, yang menjadi sorotan adalah ketidaktahuan masyarakat tentang bagaimana penderita tuna rungu hidup dengan suatu kekurangan yang dideritanya, atau bagaimana ia mengartikan kehidupan ini dan bagaimana caranya untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. Karena adalah suatu fakta bila mereka yang dengan different ability tersebut tinggal bersama dan hidup di atas kontrol sosial masyarakat. Kontrol itu adalah nilai-nilai yang muncul di masyarakat mengenai bermacam hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
Bersama dengan Ny. Arif Kushariadi, orang tua dari seorang penderita tuna rungu, dan Ibu M. Th. Dita Rukmini S, seorang penderita tuna rungu yang aktif di BERKATIN (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia), para peserta talkshow yang datang dari kalangan masyarakat, keluarga, pendidik, mahasiswa dan LSM diajak untuk membuka wacana tentang keberadaan tuna rungu di Indonesia secara umum. Kesadaran dan peran serta aktif sangatlah dibutuhkan sebagai sebuah dukungan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam dunia tuna rungu. Terlebih bagi para penderita tuna rungu itu sendiri.



Kirim Komentar