FKN: Kesenian Daerah sebagai Simbol Ragam Budaya Indonesia
INDONESIA MEMANG LAYAK DISEBUT NEGARA YANG KAYA AKAN KEBUDAYAAN. Terlihat pada acara Parade Tari Klasik sebagai salah satu rangkaian Festival Kraton Nusantara IV di Sewotomo Puro Pakualaman yang diselenggarakan selama empat hari ini(26-29 September). Beragam atraksi tari-tarian klasik yang menarik dan masih asli dari sejumlah kraton dari seantero Nusantara ini secara apik coba ditampilkan pada acara tersebut.
Beberapa tarian klasik di antaranya adalah Kadato Kie Kesultanan Tidore (Maluku Utara), Kraton Sekadau (Kalimantan Barat), Kraton Sumedang Larang (Jawa barat), Kesultanan Pontianak (Istana Kadriyah Kalimantan Barat), Kedaton Kasultanan Ternate (Maluku Utara), Panembahan Sintang (Kalimantan Barat), Kasultanan Wajo (Sulawesi Selatan), Istana Balla Lompua Gowa (Sulawesi Selatan, Kesultanan Bulungan (Kalimantan Timur), Kasultanan Negeri Serdang (Sumatera Utara), Langkane Kedatuan Luwu (Sulawesi Selatan), Kasultanan Kraton Buton (Sulawesi Tenggara), Puro Mangkunegaran (Jawa Tengah) serta taun rumah Puro Pakualaman.
Langkane Kadatuan Luwu misalnya, semalam (27/9) di pendopo yang ditata sedemikian rupa tersebut ditampilkan tari-tarian pernikahan yang bermakna mempersandingkan mempelai lelaki dan perempuan. Tiga orang pengantin pria berbaju kebesaran daerah Sulawesi berwarna putih dengan hiasan indah di kepala diarak oleh berpuluh-puluh pengawal yang membawa tetabuhan melewati sebuah bambu kuning menuju ke sebuah tenda kebesaran yang disebut lelung.
Di dalam tenda tersebut, para pengantin pria disambut oleh keluarga pengantin wanita berbaju Bodho putih yang mencoba menghalangi mereka memasuki lelung sebelum keluarga pengantin pria menyerahkan seserahan yang pantas sebagai simbol penghormatan antar keluarga. Sebagai tanda diterimanya pinangan, bambu kuning yang berhiaskan permen dan hadiah-hadiah kecil tersebut dipatah-patahkan dan diperebutkan oleh orang-orang di sekitarnya. Para penonton di seputar Puro Pakualaman yang juga diberi kesempatan untuk mengambil hadiah-hadiah tersebut tak ketinggalan ikut meramaikan acara dengan memperebutkannya.
Sementara Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara menampilkan empat tarian klasik yang jarang dipertontonkan sebelumnya, yakni tarian Lariyani, Kalegoa, Honare dan Kalegoa yang masih asli dan belum pernah dimodifikasi. Seperti dijelaskan Muhammad Djudul selaku wakil ketua yang ditemui GudegNet, keempat tarian sakral dari negeri Buton yang menyimbolkan sebuah perjalanan kelahiran dan hidup manusia ditampilkan para penari dengan hanya menggunakan penutup badan bernuansa ritual tanpa aksesoris lain. Nuansa mistis yang tergambar dari sebuah bentuk kesenian daerah nan adiluhung yang beragam.



Kirim Komentar