FKN: Kraton Tak Akan Melangkah Jika Minim Interaksi

Oleh : Budi / Senin, 00 0000 00:00

SEMUA ORANG TAHU KALAU KRATON BUKAN LAGI PUSAT KEKUASAAN, namun kurang lebih hanya nampak sebagai lembaga budaya saja. Lembaga tersebut menjadi kewajiban insan-insan kraton untuk menggali, melestarikan, mengembangkan dan berinteraksi dengan masyarakatnya. Hal tersebut tersirat dalam penutupan Dialog Budaya Festival Kraton Nusantara (FKN) IV yang mengangkat tema "Merajut Kearifan Budaya Lokal, Merekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa" di Hotel Inna Garuda Yogyakarta Selasa (28/09) siang.

Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusumo salah satu tim perumus hasil dialog tersebut mengatakan bahwa kraton tidak harus menunggu bantuan dana dari siapa pun. "Itu sebetulnya interaksi dengan masyarakat sehingga tidak perlu dana asal kita mau bergaul, memberikan contoh dan panutan, kita dihargai," tukas Gusti Joyo. Ia menambahkan bahwa hal tersebut sudah tentunya akan mendorong dan menguatkan posisi kraton sebagai pusat budaya.

"Jika hilang tanpa bekas, itu salahnya insan kraton sendiri yang tidak mau berinteraksi dalam dunia yang sudah berubah ini," tuturnya. Menyinggung kraton sebagai pusat budaya, menurut Gusti Joyo, untuk menjadikan kraton-kraton menjadi pusat budaya maka jangan selalu diorientasikan pada masalah dana. "Sebetulnya dia (kraton) akan menjadi pusat kebudayaan atau tidak itu sangat bergantung pada aktivitas dan kreativitas insan kraton itu sendiri," lanjutnya.

Yang dapat menjalin dan berinteraksi dengan dunia luar mulai dari masyarakat umum, perguruan tinggi, LSM hingga pemerintah maka tentunya kraton tersebut mempunyai peluang yang lebih besar menjadi pusat budaya dibandingkan dengan kraton yang menjadi penonton saja atau pasif. "Kalau insan kraton sendiri tidak mau bergerak dan berinteraksi dengan masyarakatnya dan masyarakatnya sendiri tidak memandang sebelah mata terhadap insan kraton, ya jangan harapkan kraton jadi pusat kebudayaan," ujarnya.

Sudah saatnya kraton tidak berusaha mempertahankan dirinya menjadi pemilik kekuasaan di zaman sekarang, sebab bagi Gusti Joyo, kraton yang tidak dapat menjadi pusat kebudayaan maka secara seleksi alam akan terhapus atau kehilangan esensi budayanya dari kraton itu sendiri.

Dalam penutupan dialog budaya tersebut, juga dihasilkan 10 pokok-pokok yang akan menjadi rekomendasi bagi dialog budaya berskala nasional mendatang. Dialog budaya nusantara di Yogyakarta merupakan rentetan penyelenggaraan di tiga tempat mulai dari wilayah barat bertempat di Pekanbaru pada 8 Juni 2004, wilayah timur di Makassar pada16 Juni 2004 dan wilayah tengah di Surakarta pada tanggal 29-30 Juni 2004.

Peserta dialog yang terdiri dari para utusan kraton yang ada di tiga wilayah nusantara, budayawan (seniman), lembaga studi terkait hingga agamawan menghasilkan pokok-pokok persoalan yang berkaitan dengan reinterpretasi dan revitalisasi budaya daerah dan kearifan lokal dalam kehidupan mendatang. "Dialog budaya yang dilakukan dalam kesempatan hendaknya didorong bukan hanya berhenti pada tahap wacana saja tetapi juga dalam wujud tindakan nyata," tambah Prof Dr Djoko Suryo, anggota tim perumus lain yang hadir dalam dialog tersebut.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini