Hidupkan Dunia Imajinasi melalui “Follow The Rabbit”

Oleh : Argo Jatmiko Mulyo / Senin, 00 0000 00:00

GUSBARLIN DAN RAMLA ISTIBAR (gb+ramla) adalah duo seniman yang bekerjasama sejak 2003. Kali ini melalui proyek "follow the rabbit", duo ini mencoba mengajak siapa saja untuk memasuki dunia fantasi mereka melalui karya-karya mereka yang mencoba bercerita tentang dunia yang mereka masuki. Seperti tokoh Alice atau Neo yang mengikuti Kelinci Putih, masuk ke wilayah yang (mungkin) sangat tidak nyata. Mereka bercerita tentang sebuah dunia di mana fiksi adalah kebenaran, fakta adalah fantasi yang indah.

Pameran "Follow The Rabbit" yang digelar dari tanggal 6 hingga 28 Oktober 2004 di Rumah Seni Cemeti, Jl. D.I Panjaitan 41 Yogyakarta, Gusbarlin mencoba membawa paket pameran yang sangat sulit dimengerti oleh publik seni rupa, karena senimannya sendiri melakukan fiksi di dalam fiksi itu sendiri.

Seniman yang tinggal dan berkarya di Bandung ini mulai proyek kerjasama sebagai duo artis dengan tokoh fiktif (Ramla). Mereka bekerjasama untuk menghidupkan dunia imajinasi mereka dan menawarkan kepada para pengunjung untuk memasuki dunia yang mereka ciptakan berdua. Gusbarlin muncul sebagai sesosok seniman laki-laki, sebagai kreator, sebagai yang lebih “nyata”. Sementara, pasangannya Ramla Istibar adalah hal-hal yang berkebalikan dengannya: seniman perempuan yang diciptakan dan yang “tidak nyata”. Namun keduanya hadir dan berkarya bersama, bertualang dalam dunia imajinasi itu, menciptakan kisah mereka sendiri “Follow the Rabbits”.

Dalam dunia imajinasi merekalah, banyak hal dihidupkan dan dirayakan antara laki-laki dengan perempuan, antara fiksi dengan kenyataan, dan antara sang pencipta dengan ciptaannya. Gusbarlin dan Ramla Istibar mencoba mempertanyakan bahkan mereduksi semua hal yang selama ini mereka hadapi dan percayai. Seni, kehidupan sosial dan ekonomi, persoalan gender, eksistensi, tubuh dan pikiran, norma bahkan eksistensi mereka sendiri dan keberadaan Tuhan, yang bagi mereka semua itu lebih banyak berbentuk mitos dan imajinasi.

Kurator Aminuddin TH Siregar mengutarakan pengangkatan kembali pertanyaan yang mendasar tentang hal yang disebut sebagai realitas/ fiksionalitas dan identitas. Menurut Aminuddin, sejak pameran terakhir Gusbarlin dan Ramla disodorkan ke publik Bandung pada Oktober 2003 silam, fiksi identitas dalam seni rupa kembali dibicarakan. Fiksi itu, sebagaimana disodorkan adalah apa yang kita duga sebagai sejarah, nilai, nama, peristiwa, monumen, sosok dan dalam kasus tertentu, apa yang nanti disebut sebagai wacana.

Seperti Karya berjudul ”Kelinci” (2004), ”Climb with Heart” (2004), ”The King of Beauty Contest” (2004) dan ”Sweet Dream” (2004) yang merupakan kolaborasi duo seniman antara lain bertindak sebagai artefaknya. Adapun karya Ramla Istibar antara lain “Not All I Want” (2003) dan ”I Want to Be Green” (2003), lalu karya Gusbarlin bisa kita lihat pada ”Empty Space I” (2004) atau ”Menjadi Sejarah” (2001). Karya keduanya, menurut Aminuddin, baik yang kolaboratif maupun mandiri, mendorong kita untuk merayakan fiksi melalui karya seni rupa. Kita mungkin tersesat sedemikian lembut pada detik, tepat ketika kita membangun makna pada setiap karya.

Apabila kita bertanya apa makna dari semua karya duo seniman tersebut, mungkin di situlah letak kepastian makna dalam karya seni di dalam dunia Gusbarlin dan Ramla menjadi tidak ada. Kurator sendiri mengaku tidak berani menguraikan makna sebuah karya, nilai dari karya itu dan mungkin seperti itulah seni, mungkin juga itu yang ingin diterapkan oleh Gusbarlin.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini