Re-launching Visual Arts magazine, Ide Segar dengan Diskusi yang Hidup

Oleh : setya hadi nugroho / Senin, 00 0000 00:00

WALAU BERTEMA "MEMBUMIKAN SENI RUPA", tidak berarti bahwa selama ini seni rupa ada di angkasa; tetapi nyatanya banyak juga perupa dan penikmat seni rupa khususnya datang dalam diskusi yang diselenggarakan dalam rangka re-launching Visual Arts Magazine, Sabtu (09/10) di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis dengan disambut oleh Aude-Emeline Lariot, Direktris LIP Yogyakarta.

Sempat diskusi dimeriahkan oleh pantomime Ende Riza yang mendemontrasikan tentang pematung dengan objek perempuan yang tiba-tiba diajaknya ke panggung auditorium yaitu Aude-Emeline Lariot, untung saja Lariot juga ekspresif gesture-nya. Jadi jangan heran walaupun belum lancar berbahasa Indonesia, namun ia menjadi objek yang tepat karena memang pantomime tidak membutuhkan suara verbal (lisan) manusia.

Acara yang dimulai pukul 10.30 ini mengahadirkan Raihul Fajri yang juga merupakan jurnalis Tempo biro Yogyakarta, DR. Faruk (direktur Pusat Studi Kebudayaan UGM dan Ashadi Siregar (direktur LP3 Yogyakarta). Menghadirkan orang-orang media dalam re-launching Visual Arts magazine, dirasa tepat, namun sayangnya tidak seorang-pun perupa (visual artist) yang duduk sebagai pembicara di tengah-tengah diskusi tersebut.

Raihul Fadjri membawakan "Media, Seni Rupa dan Jurnalisme". Fadjri menyadari bahwa perkembangan seni rupa membuat orang tidak lagi berbicara tentang brush stroke, komposisi warna, garis, bentuk dan volume. Kemunculan medium baru semacam seni instalasi, seni pagelaran (performance art), happening art, environmental art, video art dan bahkan seni dengan medium konvensional (seni lukis, grafis dan patung) dengan pendekatan baru yang kemudian digolongkan sebagai karya seni rupa kontemporer membutuhkan pendekatan baru untuk menjelaskannya kepada publik, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan media massa.

"Metasemiotika Seni Rupa" sebuah bahasan yang dikemukakan oleh Faruk justru beranggapan bahwa selama ini seni rupa yang diangung-angungkan karena keindahannya, ternyata bukan sekedar fenomena estetik saja melaikan termasuk di dalamnya adalah untur semiotik. Yang artinya, objek-objek visual yang bernama seni rupa itu disamping menjadi stimulan bagi aktivitas indera penglihatan manusia, memberikan pengalaman visual, juga merupakan tanda-tanda yang dengannya manusia menyimpan, mengolah, mendistribusikan dan sekaligus memperoleh informasi, yang berupa gambaran mengenai keadaan objektif, pandangan, sikap, dan perasaan manusia terhadap suatu objek.

Sebagai fenomena semiotik, seni rupa tidak berdiri sendiri. Dengan kelima inderanya dan dengan kemampuan pikirannya manusia menciptakan pula berbagai sistem semiotik, baik sistem semiotik tipikal yang penanda-penandanya terbangun dari objek-objek inderawi tertentu, maupun sistem semiotik campuran yang penandanya terbangun dari objek visual dan auditif seperti televisi misalnya.

Selebihnya bagi Ashadi Siregar sebagai pembicara terakhir dalam diskusi yang dimoderatori oleh Kuss Indarto, kurator seni rupa di Yogyakarta, membicarakan tentang masalah komunikasi visual sebagai sebuah eksplorasi. Ashadi menekankan bahwa setiap media massa mempunyai pasar yang khas yang nantinya berimbas pada jenis jurnalismenya. Ada peace journalism, emphatic journalism dan masih banyak lagi di mana akan membuat jurnalisme seni juga bertolak dengan perspektif tertentu. Ada satu hal penting yang diangkat dalam sebuah bahan pembicaraannya, bahwa ada 4 elemen jurnalisme yaitu verbal atau non verbal dan visual atau non visual. Jika ada media mengutamakan yang lain, ketiga hal lainnya maka hanya akan menjadi pendukung.

Saut Situmorang bertanya tentang konteks hegemoni yang harus dituntaskan ketika salah seorang pembicara menyingungnya, Saut Situmorang selama ini dikenal dengan sebagai seorang penulis puisi yang cukup produktif dan hal di bidangnya. Pada akhirnya, diskusi ini yang diawal dikhawatirkan tidak greget karena tak ada perupa yang menjadi pembicara, namun justru diskusi ini memancing banyak ide segar. Selamat datang Visual Arts magazine! di jagad raya media.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini