Pertanyakan Budaya Indies Hari Ini
PERTANYAAN "APAKAH KITA INDIES?" menjadi subyek bahasan pada seminar "Membuka Koper Budaya Indies" yang diselenggarakan sebagai penutup rangkaian program acara Bulan Neo Indies oleh Kedai Kebun Forum. Program ini bertujuan menggali ingatan bahwa Indonesia adalah mosaik yang terdiri dari berbagai keping pembentuk yang satu sama lain saling berbeda. Dari masa ke masa Indonesia berasimilasi dengan tak saja budaya di Asia tetapi juga Eropa sebaga negara bekas jajahannya dan Amerika sebagai imbas arus globalisasi. Percampuran itu kini semakin berubah ke banyak elemen kehidupan seperti adanya produk fisik, pola pikir dan sudut pandang.
Seminar ini digelar Minggu (10/10) malam di Ruang Pertunjukan Kedai Kebun Forum dengan menghadirkan dua pembicara Primanto Nugroho (peneliti) dan Nuraini Juliastuti (KUNCI Cultural Studies). Mereka berbicara tentang ke-indies-an dalam sudut pandang yang berbeda. Kata Indies sendiri malam itu menjadi perdebatan di antara peserta seminar karena para pembicara tak memberi definisi dan batasan pembicaraan. Indies disepakati sebagai identitas manusia Indonesia yang kontemporer.
Nuraini mengklasifikasikan budaya Indies dalam tiga masa yaitu Masa Menyenangkan, Masa Menyedihkan dan Masa Menyenangkan Kembali. Tiga masa itu cukup dapat memberi gambaran bagaimana posisi seorang Indonesia dari masa ke masa dengan perasaan yang berbeda-beda. Nuraini memberi contoh tentang anak-anak Indo yang kini dinilai mempunyai posisi tinggi dalam ruang sosial padahal seperti seorang Betrand Antolin misalnya ia pernah dianggap sebagai seorang Indo yang kaya padahal masa kecilnya jauh dari kehidupan itu. Hal ini juga menunjukkan bahwa wajah Indo identik dengan posisi sosial tertentu (kaya).
Sementara itu Primanto memaparkan budaya Indies sebagai Pelembagaan Identitas Poskolonial Konsumtif. Ia bercerita tentang perbedaan orang Indonesia masa selepas revolusi dengan orang Indonesia yang hidup di masa kini yang dihinggapi dengan gejala inferiority. Gejala ini merupakan perasaan malu dan tak percaya diri pada identitas ke-Indonesia-an kita jika berhadapan dengan orang dari luar lingkungan kita. Dibandingkan dengan masa selepas revolusi kemerdekaan Indonesia yang dinilai lebih berani jika berhadapan dengan orang berkulit putih dan kultur yang berbeda sekalipun.
Seminar ini dihadiri lebih dari 50 orang dari berbagai kalangan seperti para seniman, akademisi dan LSM sehingga timbul wacana-wacana baru dalam memandang budaya Indies. Seperti Tia salah seorang dosen Fakultas Sosiologi UGM yang mempertanyakan apakah sebenarnya Indies. Menelusur dari sejarah leksikal, kata Indies sebenarnya merupakan inferiority complex itu sendiri. Perasaan rendah diri itu identik dengan gelap, jauh, terbelakang yang kini sedang mencari ruang-ruang baru dan identitas. Lain lagi seniman Saut Situmorang yang memberi penekanan pada perbedaan kontekstual Indie dan Indies. Indie kini dipandang sebagai cara atau jalur tersendiri yang tidak tergantung dengan kapitalis dan kata indie ini berasal dari independen. Sedangkan Indies adalah identitas Indo-Eropa di Hindia Belanda atau percampuran pribumi dan Eropa yang menikmati posisi sosial ekonomi yang lebih baik dari golongan lain. Hal ini juga menjadikan dikotomi soal Barat dan Timur dalam masyarakat kita.
Tak ada yang salah dengan persoalan apakah kita seorang Indies ataupun tidak. Derasnya arus globalisasi juga memungkinkan kita untuk berpikir dengan cara Barat walaupun kita bertempat di Timur. Cara kita berpenampilan juga sedikit banyak didukung oleh berbagai industri. Gejala-gejala Indies dan semangat yang ada di dalamnya sebenarnya dapat disikapi dengan positif jika kita dapat menyaring yang benar-benar sesuai dengan kepribadian kita. Ekspresi budaya ini dapat pula menunjukkan artikulasi diri sebagai manusia yang menjalani kehidupan.



Kirim Komentar