Munculkan Potensi Seni Kriya
PETA PERKEMBANGAN SENIMAN KRIYA sangat menarik untuk ditelusur karena objek pada kriya seni bisa memiliki nilai fungsi dan direproduksi secara massal sebagai kerajinan. Akan tetapi melihatnya sebagai sebuah kenyataan, para seniman kriya tak banyak menangkap peluang itu dan memanfaatkan potensi yang ada. Pembacaan yang komprehensif dari sebuah karya kriya adalah salah satu problem sekaligus tantangan dalam ranah kriya sebagai ekspresi individual seorang seniman kriya.
Sebuah diskusi bertajuk "Potensi Objek di Kriya Seni, Soal Infrastruktur dan Peluang Perupa Kriya Dalam Konstelasi Seni Rupa" digelar pada Rabu (20/10) di Rumah Seni, Pogung Lor No 48 Yogyakarta dengan menghadirkan A. Sujud Dartanto dan Krisnanto sebagai pembicara. Acara yang sedianya akan digelar pada pukul 17.00 WIB ini didahului dengan buka bersama dan sholat bersama di tengah ruang galeri baru itu.
Karya kriya kontemporer dipaparkan oleh Sujud dengan lebih dulu membaca problem kategorisnya. Dalam genre seni rupa, kategori memiliki dinamika wacana sendiri dan sebentulnya tak perlu menjadi gap dalam bingkai sebuah pameran seni rupa. Perupa kriya sebenarnya bisa bergerak flexibel dan luwes dalam konstelasi seni rupa karena dengan penguasaan materi dan pengetahuan kriya mereka mampu menghasilkan objek ekspresi yang laur biasa. Sujud juga mengarahkan bahwa Kriya Seni memerlukan ruang aktualisasi, jurnal, leader artist, leader thinker di samping juga melihat indikasi perkembangan kriya seni dalam pameran-pameran.
Sementara Krisnanto seorang dosen kriya di Institut Seni Indonesia berbagi soal dialektika seni kriya tradisional dan kontemporer. Lokal seni dan globalitas yang dipaparkannya merupakan setting ruang yang mengacu pada latar belakang budaya Indonesia. Local genius Indonesia juga terdapat dalam seni dengan latar belakang kriya yang beradaptasi dengan seni rupa lainnya. Seni kriya yang berbasis pada teknik, skill, dan pengetahuan kekriyaan sebenarnya mempunyai keunggulan tersendiri.
Diskusi ini berlangsung sangat responsif selama 3 jam karena beberapa seniman seperti Mujar, Rain Rossidi, Handojo, Kuss Indarto, Sutrisno, Caroline hingga Antares memberikan input dan ide-ide agar para kriyawan lebih percaya diri dengan dunianya dan berani bersaing dalam industri yang memungkinkan diterobos seperti hotel dan public room tanpa tergantung dengan para kolektor yang mendominasi karya seni rupa lainnya.



Kirim Komentar