Gelar Seni Lestarikan Adat-Budaya Dayak

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

CERITA SUATU SEJARAH PERADABAN MANUSIA tak melulu harus lewat tutur kata atau lembaran kertas. Bahwa adat istiadat nan adiluhung pun ternyata bisa diceritakan lewat sebuah seni yang mewakili apapun. Begitu pula dengan peradaban dan adat istiadat suku Dayak di Kalimantan Barat yang telah mentradisi sekian lamanya dapat dipaparkan pula lewat kegiatan seni gerak tari nan cantik yang bermakna. Tak sekedar terwakili olehnya (seni-red), sebuah pelestarian budaya pun akhirnya termunculkan secara menarik tanpa birokrasi yang seringkali menyulitkannya untuk berkembang.

Adalah sebuah "Festival Seni dan Budaya Dayak III" yang diselenggarakan selama dua hari (22-23/10) di Purna Budaya UGM dengan kegiatan seni yang menjadi media pencerita, pelestari sekaligus promosi tersendiri bagi keberadaan adat dan budaya asli nan "kuno" Dayak bagi masyarakat kita, khususnya Kota Gudeg ini di tengah hirup pikuknya modernitas yang membelenggu setiap jengkal hidupnya.

Tarian "Bukonk Betadja" misalnya, sebuah upacara adat Malis untuk mengusir roh-roh halus penyebab kekeringan, gagal panen dan wabah penyakit, tertutur cukup apik lewat gerak tari Desireda, Maria Anna, Cindy dan yang lainnya. Teiringi oleh musik khas suku Dayak oleh Paris Gapur dan kawan-kawannya, sebuah estetika dan pemahaman akan adat dan budaya mereka cukup tersampaikan dengan baik dengan hanya membayar tiket tanda masuk sebesar beberapa ribu rupiah saja. Sebuah harga yang sebenarnya tak layak bagi penghargaan budaya berharga mereka.

Tak sekedar bercerita tentang budaya tradisional Dayak, suatu bentuk perekonomian mereka pun coba dipaparkan lewat tarian "Nge Bau". Bercerita tentang aktivitas suku Dayak dalam berburu binatang sambil mencari lahan yang dianggap baik untuk ditanami padi, strata sosial suku Dayak pun tersirat lewat tarian delapan penari dan enam pemusik yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Kristiani Sintang(FKPMKS).

Suatu peperangan dan perdebatan yang biasanya menakutkan pun menjadi satu hal yang menarik ketika ditarikan oleh Beni, Landung, Desti dan yang lainnya lewat tarian "Ngayau". Memunculkan sportivitas pertempuran, pertaruangan dan jiwa ksatria, 15 penari dengan penuh semangat membunyikan beberapa tetabuhan dan bunyi-bunyian khas suku mereka.

Pada akhirnya, festival yang diselenggarakan secara kontinyu tiap tahunnya yang dihadiri langsung oleh jajaran tinggi pemerintahan propinsi Kalimantan Barat, seperti Bupati dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi, Drs. Herry Djaung memberikan catatan betapa sebuah usaha, sekecil apapun bentuknya, coba mereka lakukan untuk tetap mencintai dan memiliki apa yang disebut adat dan budaya Dayak.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini