Ketidakfokusan Cahyadi yang Kaburkan Sosok Ki Manteb

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

SEBUAH KARYA FOTO YANG BAIK biasanya selain sebagai karya indah juga harus mempunyai kualitas atau karakteristik nilai dan makna yang bisa diterima sebagai bagian dari seni. Dengan kata lain, tidak sekedar nilai artistik yang menjadi faktor penentu baik tidaknya karya tersebut, tetapi juga angle yang "cerdas" sebagai kekuatan ekspresi sang senimannya dalam mengeksplorasikan ide-idenya dalam bingkai foto pun layak diperlukan. Sayangnya, kelengkapan kedua faktor tersebut tidak dapat ditemukan pada karya-karya foto Cahyadi Dewanto yang dipamerankan di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2 Kotabaru selama enam hari ini (21-26/10).

Sebut saja sosok sang dalang beken Ki Manteb Soedharsono yang dipilih Cahyadi sebagai obyek fotonya, menurut perupa sekaligus staf pengajar media rekam ISI, Alex Lutfi sebagai pembicara dalam diskusi foto yang diselenggarakan hari ini (26/10) di tempat yang sama, tidak dapat ditampilkan secara fokus. "Angle yang menarik tentang kekuatan Ki Manteb sebagai seorang dalang tidak dapat tertangkap oleh Cahyadi," komentarnya. Sehingga apa yang ingin disampaikannya pada para penikmat foto lewat karya-karya yang menggambarkan kehidupan sehari-hari Ki Manteb dari bangun tidur hingga persiapannya mendalang justru tidak terungkap dengan jelas, walaupun dari segi tekhnis sendiri sudah tidak diragukan kualitasnya.

"Akan lebih menarik dalam kacamata Cahyadi untuk lebih memfokuskan kehidupan ritual Ki Manteb sebagai seorang dalang," papar Alex. Dengan demikian diharapkannya sosok dalang setan tersebut dapat dibaca dengan kualitas fotografi yang tidak sekedar dokumentatif belaka.

Hal senada dilontarkan seorang pemerhati seni, Jadu Maula dari LKiS yang mengatakan bahwa banyak hal dalam keseharian kehidupan Ki Manteb yang bisa dieksplorasi secara intensif untuk dijadikan angle yang menarik untuk didokumentasikan. Misalnya saja kontradiksi antara kesenian wayang kulit abangan yang digeluti Ki Manteb dengan kehidupannya sebagai seorang pemeluk agama yang taat.

Padahal kalau Cahyadi lebih memfokuskan pada hal-hal menarik yang terjadi dalam keseharian Ki Manteb saja, maka tiap-tiap foto jepretannya dapat menjadi sebuah buku dengan empat bagian atau paragraf tersendiri yang sangat menarik. Ki Manteb sebagai pribadi yang beragama, sebagai seorang dalang seniman wayang kulit, sebagai dalang yang berkaitan dengan politik karena sering diundang untuk pentas di acara-acara partai dan kenegaraan serta Ki Manteb dengan budaya iklan yang digelutinya. "Tiap-tiap bab bisa memunculkan pertanyaan lebih dalam sebagai angle yang bagus, namun sayangnya eksplorasi tidak dilakukan oleh Cahyadi," jelasnya.

Dicontohkan Jadu, banyaknya negoisasi Ki Manteb dengan para pemesannya dalam mementaskan lakon wayang seperti yang terbaca dalam karya-karya yang dipamerkannya, memperlihatkan bahwa dirinya sekedar mendokumentasikannya dalam bingkai foto. Tak sekedar merekam tetapi seharusnya juga membuktikan kontroversi Ki Manteb yang merusak atau justru setia pada pakem pewayangan dengan mudahnya sang dalang menerima pesanan lakon yang tidak ada dalam pakem wayang kulit itu sendiri.

Sementara Cahyadi sendiri menanggapi komentar-komentar tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya hanya ingin merekam sejarah dan momen dirinya bersama Ki Manteb secara apa adanya seperti halnya sifat dasar foto dokumenter. "Saya tidak ingin karya saya menjadi propaganda yang bisa memanipulsi," jelasnya. Karena itulah ia tidak memilih angle atau fokus tertentu dalam kehidupan Ki Manteb selain kehidupan kesehariannya sebagai orang biasa.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM



    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini