Degradasi Nilai Tradisi Garebeg Syawal 1425 Hijriah
UPACARA PERAYAAN GAREBEG SYAWAL YANG MENJADI PUNCAK PERAYAAN HARI IDUL FITRI 1425 HIJRIAH terasa kurang greget-nya dan tidak se-hikmad tahun-tahun sebelumnya. Upacara yang masih dilestarikan Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat tersebut dilaksanakan pada Minggu (14/11) pagi.
Gunungan Jaler yang menjadi puncak acara dalam garebeg tersebut dikawal oleh 2 bergodo (pleton), yaitu Surokarso dan Bugis. Sebelumnya, sudah muncul 8 bergodo yang secara rapi berjajar di sisi jalan yang menghubungkan Kraton Ngayogyakarto dengan dua pohon beringin yang ada di Alun-Alun Utara Yogyakarta. 8 bergodo pembuka jalan itu bernama bergodo Daeng, Wirobrojo, Patangpuluh, Mantrijero, Ketangguh, Prawirotomo, Nyutro dan Jogokaryo.
Prosesi awal dalam garebeg tersebut, dilakukan laporan kesiapan pasukan oleh Pandigo (protokol) Den Mas Angkoro Murti kepada Manggalayuda Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudaningrat dan diikuti oleh tembakan salvo sebanyak 3 kali baik dalam menyambut kedatangan hingga gunungan selesai melewati bergodo Kraton.
Dengan dikawal oleh bergodo Surokarso dan Bugis, gunungan Jaler dari mulut Kraton sebelah utara berjalan ke arah dua pohon beringin yang berada di tengah-tengah Alun-Alun Utara dan berbelok ke arah barat menuju Masjid Gedhe Kauman. Alun-Alun Utara nampak lengang dari pengunjung yang tertarik dengan prosesi yang terhitung langka bagi masyarakat Yogyakarta apalagi hanya diselenggarakan tiga kali dalam setahun.
Di pelataran Masjid Kauman, pada pukul 10.47 WIB, masyarakat baik dari daerah sekitar maupun dari luar kota yang sudah tampak berjejal untuk memperebutkan hasil bumi yang menempel rapi di gunungan Jaler. Baru pukul 11.03 WIB, gunungan tersebut sudah jadi rayahan massa. Bahkan ada salah penonton yang mengalami pendarahan di tangannya karena tersayat bambu yang digunakan sebagai rangkaian untuk membentuk gunungan. Masyarakat memang belum diperkenankan untuk memperebutkan satu gunungan tersebut hingga proses pemberkatan yang dilakukan oleh pengulu masjid KRT H Kamaludiningrat selesai.
Tahun-tahun sebelumnya, perebutan gunungan dilakukan di luar area masjid bahkan di tengah-tengah Alun-Alun Utara, tahun ini nampak berbeda. Perbedaan itu terlihat pada waktu selesai dilakukan pemberkatan oleh penghulu dan belum sempat dikeluarkan dari masjid untuk diperebutkan oleh masyarakat, orang-orang yang sudah menunggu sejak lama untuk "ngarayah" hasil bumi tersebut tanpa dikomando sudah mulai berebutan.
Lamanya prosesi dari Kraton menuju Masjid Kauman yang membutuhkan beberapa agar prosesinya berjalan hingga usai tidak sebanding dengan cepatnya waktu yang dilakukan oleh masyarakat melakukan rebutan massal hasil bumi di gunungan tersebut.
Kepercayaan akan berkah dari hasil bumi dari prosesi gunungan yang terjadi setahun tiga kali tersebut masih erat melekat di sanubari masyarakat Yogyakarta yang mendapatkannya. Sehingga acara rayahan massal semacam itu tidak dapat dihindari dan sudah menjadi salah satu rangkaian prosesi gunungan itu sendiri. Untuk Garebeg, terjadi dalam tiga waktu dalam setahun, yaitu Garebeg Maulud (peringatan Maulud Nabi Muhammad saw), Garebeg Ageng (Idul Adha) dan Garebeg Sawal (Idul Fitri).
Pelaksanaan Garebeg Sawal sendiri memang tidak sebesar Garebeg Ageng, namun kelengkapan pelaksanaan upacara tetap sama dan dalam kaitan ini banyak pula kegiatan tradisional yang diselenggarakan di Keraton Yogyakarta. Upacara Garebeg itu sendiri berupa keluarnya Gunungan (Hajad Dalem Pareden) yang berisi berbagai jenis sayuran dan makanan khusus yang ditata hingga menyerupai gunung. Makanan khas dan khusus yang ada dalam Gunungan itu sendiri antara lain tlapukan, upil-upil, betetan, rengginang, ole-ole, eblek, sampil yang keseluruhannya terbuat dari ketan dan juga sayur-sayuran sebagai lambang kesuburan di Yogyakarta.
Kemeriahan prosesi ini semakin menarik ketika hasil bumi yang diperebutkan sudah habis, bambu yang dijadikan pengangga gunungan tersebut juga amblas dirayah massa. Giman yang mendapatkan bambu tersebut mengatakan bahwa akan dilekatkan pada soko bangunan agar rumah yang dihuninya dapat lebih kokoh.
Bagi KRT Kamaludiningrat, kuantitas bukan menjadi fokus dari penyelenggaraan Garebeg Sawal tiap tahunnya. "Itu merupakan simbol antara sultan dengan masyarakat yang telah diberikan doa dan dapat memberikan harapan bagi masyarakat yang mempercayainya," ucapnya.



Kirim Komentar