Lestarikan Bentuk Rumah sebagai Perwujudan Aset Budaya
BERJALAN-JALAN DI SEPUTARAN KOTA GUDEG, mungkin tak banyak lagi dijumpai bangunan-bangunan kuno peninggalan zaman kolonial Belanda dahulu karena maraknya pembangunan kota Yogyakarta yang beberapa waktu ini berdampak pada perubahan persepsi masyarakat Yogyakarta atas arti sebuah rumah tinggal. Hanya segelintir orang-orang yang masih mempertahankan bentuk rumah mereka tanpa terombaki oleh bentuk-bentuk yang konon lebih modern yang akhirnya justru mengurangi unsur keindahan rumah itu sendiri.
Hanya segelintir orang yang masih mempertahankan keaslian rumah kuno mereka, bahkan menjadikannya sebagai aset wisata yang kemudian diberi penghargaan pelestari bangunan warisan budaya oleh Dinas Kebudayaan Propinsi DIY Sabtu (27/11) malam di nDalem Condrokiranan, antara lain RP. Prodjowijono dengan rumahnya nDalem Kilen Joglo Cipto Wening di Imogiri Bantul yang kini menjadi Museum Batik Lingkungan Imogiri, pesanggrahan nDalem Ngeksigondo di kawasan Kaliurang dan bangunan kraton di Imogiri milik Kraton Yogyakarta.
Selain itu Gereja Santa Maria Lourdes di Promasan Kalibawang, rumah Indiesch milik Saryono di Sitisewu, Rumah Makan Sate Puas yang menjadi Monumen Perjuangan Serangan Umum 1 Maret 1949 milik alm. Djajengtutugo di Jalan Gamelan, rumah joglo Prawiro Wihardjo (Notosukardjo) dan Fajar Krismasto di Tanjung dan Karanglo Sleman, Sardjono dengan rumah joglonya di Desa Monggol Gunung Kidul serta rumah Indiesch Kemayoran di Pakualaman.
Ndalem Kilen di Imogiri yang dirasa pantas mendapatkan penghargaan tersebut oleh tim penilai dari fakultas Teknik Arsitektur dan Budaya UGM, Yayasan Javanologi, BP3 Propinsi DIY, Jogja Heritage Society dan Dinas Kebudayaan DIY karena masuk dalam kriteria bentuk fisik bangunan yang sudah masuk kategori Cagar Budaya. Sejak dibangun pada tahun 1860 hingga sekarang, rumah tersebut sedikit sekali mengalami perombakan. Rumah dengan pendopo, ndalem dan pawon yang pernah digunakan untuk markas barisan Hisbullah dan Fisabillah pada masa perang kemerdekaan tersebut hanya diperbaiki atap dan empyak pendoponya yang diganti dengan reng bambu. Hingga kini, rumah yang dipelihara oleh RP Prodjowijono tersebut berubah fungsi sebagai museum batik.
Bangunan lainnya, yakni rumah makan makan milik alm. Djajengtutugo (KRT Danudipuro) di Jalan Gamelan yang pada zaman perjuangan digunakan sebagai tempat berkumpul para gerilyawan untuk mengatur strategi, juga tak banyak mengalami perombakan sejak dulu. Markas yang disamarkan menjadi warung makan sate yang masih asli tersebut kemudian juga dipilih sebagai monumen perjuangan bangsa Indonesia.
Sama halnya dengan rumah Indiesch milik Saryono di Sitisewu dengan arsitektur kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1911 oleh J. Van Bronchort, relatif masih asli baik dinding, tegel, pintu maupun atapnya. Pada masa kemerdekaan 1945, rumah yang menjadi dapur umum bagi pejuang-pejuang kita tersebut hingga sekarang ini tetap menjadi bangunan asli. Perubahan yang dilakukan diupayakan untuk memperkuat bangunan saja, seperti pengupasan plesteran dinding yang semula semen merah, gamping dan pasir yang kemudian diganti menjadi plesteran PC dan pasir.



Kirim Komentar