Koreografer Hendro Martono Pentaskan Asmaradana Sendang Kasihan
LINGKUNGAN DAPAT MENJADIKAN INSPIRASI untuk berkarya bagi Hendro Martono, seorang koreografer yang akan menggelar pentas tari Asmaradana Sendang Kasihan, Sabtu (11/12) dan Minggu (12/12) pukul 19.30 WIB. Lokasi yang kini setiap harinya digunakan untuk mandi, mencuci dan rekreasi juga berenang bagi masyarakat sekitar itu akan diubah menjadi seting yang berbeda untuk pertunjukan tari ini.
Keberadaan sendang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok yaitu pemenuhan air bersih dan mendatangkan rejeki pada saat ramai pengunjung seperti setiap malam Selasa Kliwon, malam Jumat Kliwon dan Legi serta malam 1 Suro. Masyarakat mendapat rejeki dengan berjualan makanan dan memungut jasa parkir.
Latar belakang legenda sejarah Sendang Kasihan, merupakan awal mula gagasan menyusun sebuah koreografi dengan tema rekontruksi Sekar Pembayun pada waktu melakukan tapa kungkum di Sendang Kasihan ini, lalu bersalin rupa menjadi penari ledhek (tayub). Gagasan tersebut berkembang dan berinteraksi dengan keruangan dan ketubuhan yang telah ditawarkan oleh Sendang Kasihan. Melalui pendekatan koreografi lingkungan yang memanfaatkan unsur-unsur alam sebagai penopang aspek estetis. Diharapkan terjadi simbiosis mutualisme antara sendang dengan koreografinya.
Ruang pentas terdiri dari tiga ruang penyajian yaitu lokasi A menggunakan ruang untuk melakukan "sesaji" yang berada dalam naungan pohon soka yang besar dan sangat tua. Gagasan koreografinya dari konservasi perilaku "sesaji" atau "nyekar", dan joged srimpen simbolisasi "papat keblat siji pancer" yang merupakan intisari hubungan manusia dengan alam semesta. Lokasi B ruangnya di dalam kolam air, melanjutkan "tapa kungkum" secara harafiah dan kreatif. Aliran air yang dingin menembus tulang dan karakter air yang tenang semakin membantu orang untuk meditasi menyatukan diri dengan diri sendiri dan alam air.
Lokasi C di atas pintu air sendang, untuk memenuhi ruang gerak bagi penari serta penonton dapat menikmati secara nyaman, maka dibuatkan panggung untuk ruang tari genre tayub dari tiga etnis, yaitu Banyuwangi, Surakarta dan Indramayu yang dianggap mewakili keberadaan Tayub di pulau Jawa.
Hendro Martono lahir di Mojokerto 27 Februari 1959, pada usia 10 tahun mulai berlatih tari Jawa Klasik Surakarta di kota Malang dan dilanjutkan tari kreasi baru Bagong Kussudiardjo dan Topeng Malangan. Setamat SMA mengejar impiannya di ASTI Yogyakarta hingga lulusan pertama ISI. Kemudian mengabdi pada almamaternya, dan pada tahun 2000 menempuh Pascasarjana Penciptaan Seni di STSI Surakarta dan lulus sebagai angkatan pertama pula.



Kirim Komentar