Bicarakan Perbedaan di atas Sebuah Ranjang

Oleh : anton / Senin, 00 0000 00:00

RANJANG BAGI BANYAK ORANG adalah tempat untuk beristirahat, tidur, atau bercengkrama. Namun bagi dua komunitas teater, Teater Tampak 11 dari SMA 11 dan Kelompok Terjal Ilmu Budaya UGM, pengertian tersebut tak berhenti pada ranah etimologi belaka. Sebuah ranjang yang kemudian menjadi judul pementasan teater mereka di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl Suroto 2 Kotabaru, Sabtu (11/12) malam bagi keduanya adalah sebuah keadaan, tempat, waktu, karakter manusia dan perwujudan keinginan mereka yang sangat mempesona.

"Ranjang bagi kami adalah sebuah perwujudan keinginan, tujuan, tempat manusia di mana untuk mencapainya manusia itu harus menghadapi karakter dalam dirinya," jelas asisten sutradara Wiwid W. Setiawan ketika ditemui GudegNet sebelum pentas dimulai. Suatu perwujudan perlawanan, pembelaan dan penengah dari "Sebuah Ranjang" karya Muhammad Ramadhan Batubara tersebut kemudian terapresiasi lewat olah tubuh tiga orang manusia yang berbeda, yaitu Lelaki (diperankan Budi Junior), Perempuan (Irdayolita) dan Tokoh Lain (Oktavia) yang teriringi jimbe, kendang, gitar, bas, seruling dan keyboard sebagai ilustrasi ceritanya.

Konflik sedemikian rupa pun terjadi atas perbedaan itu. Hubungan yang tercipta sebegitu rupa antara Lelaki dan Perempuan yang mempunyai pikiran masing-masing yang coba disatukan dalam satu ranjang ternyata terhalang ego, perlawanan dan pembelaan yang terus ingin dimenangkan. Bahkan Orang Lain yang semula menjadi penasehat terbaik pun tak kuasa menjadi Sang Penengah. Arti penyatuan awal terkalahkan oleh kedasyatan sifat dasar manusia yang selalu ingin menang sendiri. Perpisahan akhirnya menjadi pilihan terbaik.

Suatu pesan yang ingin disampaikan cerita sebagai koreksi diri manusia. Betapa egoisme diri pada akhirnya hanya akan menghancurkan hidup manusianya. Bahwa apapun karakter yang dimiliki, manusia tetap harus mempunyai tujuan akhir atas keinginan yang dimililki.

Dicontohkan Wiwid, perbedaan karakter dan pemikiran yang dimiliki dari komunitas teater yang berkolaborasi dalam pentas tersebut ternyata tak harus menjadi penghalang mereka mempunyai tujuan akhir, yakni berkreasi bersama menciptakan dan mengembangkan idealisme masing-masing. Betapa konflik yang terjadi karena perbedan tersebut justru mempermudah mereka dalam berekpresi seni.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini