Pentas Tranceformation Tandai Ulangtahun Didik Nini Thowok ke-50
PUNCAK PERAYAAN ULANG TAHUN KE-50 SENIMAN TARI DIDIK NINI THOWOK ditandai dengan gelaran Tranceformation, Jumat dan Sabtu (17-18/12) di Concert Hall Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Dalam rangkaian acara ini, Didik telah mengadakan pameran, workshop, launching buku dan mbarang atau ngamen dari Tugu hingga Kantor Pos Besar pada sepekan ini.
Pentas Tari Lintas Gender Internasional yang pada hari pertama dihadiri seribu orang ini menampilkan penari dari India, Jepang, Kanada yang merupakan teman-teman Didik di negara tetangga. Sebagai penari yang sudah puluhan tahun melanglangbuana ke berbagai negara Didik mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam rangkaian acara ini seperti William Lau yang mengisi pada acara workshop. Uniknya, pada pertunjukan ini peran wanita ditarikan oleh pria dan sebaliknya peran pria ditarikan oleh wanita.
Sebanyak 6 repertoir yang ditampilkan pada pentas tari ini selalu mengundang applause meriah. Pada babak pertama sebagai pembuka Didik menarikan tari Golek Lambangsari yang mengisahkan tentang gadis yang sedang menginjak dewasa dan digambarkan dengan bersolek dan menghias diri dalam suasana gembira. Tari klasik gaya Yogyakarta berdurasi 15 menit ini ditarikan Didik dengan luwes dan gemulai. Selanjutnya Tari Topeng Klana dengan penari Ibu Rasinah dari Cirebon ditarikan dengan energik. Ibu berusia 80 tahun ini membuat penonton kagum dengan gerakan cepat dan energi yang hampir tak dipunyai wanita seusianya. Tari topeng dari Cirebon ini menggambarkan Raja Klana yang gagah perkasa yang sedang di mabuk asmara.
Menyusul berturut-turut Srikanth Natarajan dan Sangeeta Isvaran dari India menyuguhkan repertoir Maa Janani Sangkara Ardhanareeshawaram selama 30 menit. Balutan kostum menawan dan musik pengiring khas India yang India membuat pentas tari ini tak membosankan. Tak kalah juga penampilan William Lau dari Canada dan Gojo Masanosuke dari Jepang. Setelah break selama 10 menit acara dilanjutkan dengan kolaborasi dalam repertoir "Kutukan" dengan penari Didik Nini Thowok, William Lau, Arja Muani dari Bali, Barong Landung, 6 orang rapper dan 3 orang penari klasik. Repertoir ini dikemas dalam bentuk komedi. Selain menari mereka juga berdialog dan bercerita dalam bentuk narasi.
Berakhir pada pukul 23.30 WIB, acara yang dihadiri oleh penikmat tari, seniman tari, kolega Didik dari berbagai negara, dan masyarakat Yogyakarta ini tetap berlangsung meriah hingga akhir acara. Didik yang telah menari di berbagai negara ini juga pemilik sanggar tari Nadya Laksita. Acara yang digarap oleh Yayasan Didik Nini Thowok ini didukung oleh HIVOS, Yayasan Kelola, Taman Budaya, dan beberapa hotel dan media massa.



Kirim Komentar