Pabrik ARTifisial, Pameran Seni Cetak 12 Seni Grafis ITB
SENIMAN-SENIMAN BANDUNG MENCOBA MEMBERI TAFSIRAN sebuah pabrik dan menuangkan dalam karya yang terkumpul dalam sebuah pameran Seni Cetak bertajuk "Pabrik ARTifisial" di Galeri Utama Kedai Kebun hingga 16 Januari 2005 mendatang. Sebuah ungkapan tentang rumah produksi seni grafis menjadi formulasi dari pameran ini. Pabrik memiliki sistem kerja kuantitatif yang sanggup memproduksi barang secara masal. Meskipun seni grafis sangatlah mungkin untuk duplikasi, ia masih tetap memiliki kaidah-kaidah seni elitis itu sendiri (multi orisinil).
Sebuah rumah produksi seni grafis tentu saja mengenal pola kerja desain yang memerlukan perencanaan yang sistematis. Pabrik memfokuskan dirinya pada sirkulasi finansial, dalam hal ini adalah sirkulasi nilai dari harga yang ditentukan. Sedangkan aktivitas pabrik menunjukan laju kembangnya pada medan sirkulasi finansial.
Pameran ini diadakan oleh sebuah "kelompok bermain" yang bernaung dalam organisasi studio di kampus FSRD ITB, yaitu Keluarga Grafis Berseni (KGB) ITB. Dengan merespon tema kuratorial "Pabrik" dan kesepakatan batasan media foto digital, para seniman berproses melalui diskusi-diskusi, dan presentasi ide yang menyebabkan berkembangnya media yang digunakan. Hasilnya, beberapa karya-karya yang dipamerkan menjadi karya cetak digital yang diinstalasikan dengan media lain.
Selama beraktivitas, pengolahan media grafis (cetak digital) menjadi prioritas berkreasi dengan dipicu oleh beragam kesadaran akan konten dalam prinsip seni rupa umumnya. Prinsip seni grafis itu sendiri adalah khasanah dari pameran ini. Di dalam seni grafis, kita dituntun masuk untuk memahami kinerja sebuah rumah produksi. Rumah produksi yang berbeda pengertian dengan aktivitas bidang Seni Murni (fine art) yang lainnya seperti seni lukis, kriya seni dan patung.
Kurator pameran kali ini, Danny Kurnia Gunawan mengatakan kepada GudegNet bahwa pameran ini hanya menjelaskan bahwa pabrik adalah pabrik adalah pabrik adalah pabrik dan menurut para seniman diartikan dengan sangat personal. Mereka yang kali ini berpameran adalah Ditto Priutomo Aimir, Rendy Syahdan Praditya, Safaat Akbar , Aji Kurniawan Azhari, J. Ariadithya Pramuhendra, Ben Isa Muhammad, Donny Kurniawan Rutji, Agus Triyadi, Melani Putri, Nining Fathia, Wendy Mardhania, Mujahidin Nurrahman, Tommy Aditama Putra. Mereka semuanya adalah mahasiswa angkatan 2001-2002.
Rumah produksi yang dimaksud itu muncul atas dasar hipotesa dari hasil komparasi pola kerja antara seni dan desain. Konsep seni yang merujuk pada pemaparan Sanento Yuliman adalah pemilahan cara pandang kerja seni rupa elitis dan desain. Yang dimaksud dengan elitis adalah segala prilaku modernisme dalam seni rupa. Termuat di dalam tulisannya, prinsip dasar dan proses kerja kedua pasangan itu dengan pemaparan yang mengidentifikasikan perbedaan-perbedaan pola kerja.
Reproduksi dan mekanisasi teknis menjadi syarat utama dalam memahami seni grafis. Pola kerja seni grafis seperti halnya pola kerja dalam desain, namun ia tetap di bawah koridor konvensional. Pengejewantahan epistemologi telah menunjukan arah perkembangan baru dalam seni grafis di Bandung bahwa, nilai seni grafis tidak selalu berada dalam ranah pola kerja konvensional melainkan melaju kedalam tata cara yang lebih mudah dengan pemberdayaan teknologi komputerisasi. Selain itu pencitraan dengan pola kerja sederhana tersebut tetap saja harus terlebih dahulu melalui proses kerja bersama dengan proses sistematika teknik yang membutuhkan kekuatan nalar. Hal itulah yang menjadi sebuah daya tarik dalam seni grafis khususnya.
Seni di sini tidaklah jauh dari pemahaman di atas. Maksudnya adalah prinsip baku yang dipakai dalam kerja pabrik dengan mudah diaplikasikan dengan tetap mempertimbangkan nilai elitisnya. Dalam hal ini, seni sama halnya dengan barang produksi di mana karya dihasilkan berdasarkan pada sebuah kebutuhan akan cita rasa yang disajikan oleh pasar; pasar seni, pasar desain dan pasar handycraft (kerajinan). Seniman tentu memiliki kebutuhan cita rasa di atas dan akan selalu berusaha untuk menempatkan keberadaan dirinya melalui daya cipta. Dapat pula dikatakan bahwa teknologi juga telah mengkonstruksi sugesti cita rasa sehingga meluaskan berbagai kemungkinan dalam seni terkini.
Hal-hal rutin, kompleksitas dan intensi pemahaman diri menopang gairah dan semangat jaman pada jiwa seniman khususnya walaupun dihadapkan dengan berbagai paradigma historis yang bertolak belakang dengan realitas terkini. Asumsi di atas diarahkan pada sebuah kesimpulan bahwa pabrik adalah pengejewantahan realitas terkini dari segala seluk-beluknya. Konsep pabrik dilandasi dengan riset dalam paradigma yang berkembang di mana teknologi menjadi sumber daya utama.



Kirim Komentar