Setiap manusia merasa bahwa musuh harus dikalahkan, sehingga dia akan merasa lebih hidup. Tak heran bila wajah sejarah manusia di dunia tak pernah lepas dari cerita peperangan, pertikaian, dan pembunuhan. Bahkan dewa-dewa, yang konon jauh lebih sempurna dari manusia, tidak bisa menghidari peperangan. Lalu akankah manusia dapat menjadi tenang setelah dia terus menjadi seorang pemenang, yang tanpa seorang yang dapat dipercayainya, karena hidup adalah selalu curiga supaya tidak menjadi kalah, supaya selalu dapat menjadi pemenang? Manusia tidak dapat hidup sendiri.
Catatan-tersebut-di-atas-lah yang memberi inspirasi pada Asita untuk mengolah sifat-sifat manusia dalam kata-kata yang mengkristal dalam gerak. Pantomim. Simbol-simbol yang dimunculkan dalam gerak-gerak tersebut dikemas dalam gelaran pantomim, "Romantika Daun Pisang" dan "Sepanjang Jalan Kenangan".
Kisah pertama tentang Endang Lestari yang adalah seorang perawan sederhana penjual daun pisang dan bekerja dengan segenap kesetiaan dan ketulusan meski barang dagangannya mulai tersingkirkan oleh barang-barang industri pabrik. Kemudian ada juga Joko Sutekno sebagai pemuda kampung yang bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil meskipun akhirnya berjualan ikan tongkol dan bandeng keliling kampung. Pertemuan dua insan inilah yang diangkat dalam Romantika Daun Pisang.
Kisah tentang manusia yang tengah dirundung kecemasan dan keresahan, serta mimpi-mimpi dan cerita-cerita dari masa lalu yang menikam kehidupan seorang lelaki dalam Fragmen Lelaki Bermata Sayu dan Perempuan Melankoli. Lelaki tersebut berjumpa dengan Mey yang berwajah melankoli dan terus menari. Sepanjang Jalan Kenangan menjadi gelaran kedua dalam pentas karya Bengkel Pantomim Yogyakarta.
Bengkel Pantomim Yogyakarta adalah proyek eksplorasi dunia pantomim yang dipelopori oleh Broto Wijayanto, Asita, Ari Dwianto, Giras Basuwondo, Tingkir Adi Wicaksono, dan Andy S.W. pada tahun 2001. Sebagai komunitas kreatif ini mereka bergerak dalam bidang seni pertunjukan pantomim dan bertujuan mengembangkan, memajukan, dan mengenalkan seni pantomim kepada masyarakat luas.
Dua kisah, "Romantika Daun Pisang" dan "Sepanjang Jalan Kenangan", akan digelar di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, pada hari Kamis (26/05) dan Jumat (27/05), pukul 19.30 WIB - hingga selesai. Selain di kota Gudeg ini, pementasan juga digelar di Gedung Kesenian Cak Durasim di bulan Juli 2005 dan juga Goethe Institute Jakarta di bulan Agustus 2005.



Kirim Komentar