Kegelisahan Keberadaan Manusia Modern

Oleh : Donny Verdian / Senin, 00 0000 00:00

Kurang lebih selama dua jam, Jumat (27/05) malam (19.30 WIB), empat orang bertubuh langsing memenuhi lantai dasar Auditorium LIP di Jl. Sagan No. 3 Yogyakarta, dengan gerak-gerak tubuh yang menarik, bahkan terkesan lucu, ditambah lagi dengan ekspresi muka yang beragam. Dalam minimalisnya pelataran belakang musik, tiga pemuda dan satu pemudi tersebut bergerak-gerak dalam enam bagian besar dari keseluruhan pertunjukan pantomim "Romantika Daun Pisang plus Sepanjang Jalan Kenangan".

Adegan pertama diberi judul Bercak Kenangan dan Ceceran Resah. Sepertinya di sini, Asita, sutradara, mencoba menunjukkan eksistensi seorang manusia yang digambarkan sebagai seorang perempuan berwajah melankoli, dalam malam menghitung mimpi dan segala keresahan. Kehidupan ditampilkan dengan gerakan yang lemah lembut seperti seorang penari menggemulaikan Jawa Klasik. Adegan pertama terkesan memberikan rangkuman kepada penonton tentang inti dari seluruh pertunjukan malam itu.

Adegan kedua dan ketiga mencoba menyambung dengan realita kehidupan yang melawan mimpi-mimpi dan menjawab keresahan perempuan berwajah melankoli itu. Empat pantomimer (Iwan, Meme, Ronald, dan Fiqi) menyapa dengan kesegaran di pagi hari dan tak lama, mereka segera tenggelam dalam kesibukan rutinitas duniawi. Uang, pekerjaan, seks, perselingkuhan, makanan, strategi, dan kejahatan menjadi satu gambaran utuh. Seakan itulah kebiasaan manusia.
Hingga malam tiba, orang-orang menjadi semakin lelah. Meski mereka setia berhamburan di jalanan, akan tetapi eksistensi mereka tak cukup untuk menjawab apa yang sedang dilakukan. Tanpa makna mereka berharap untuk terus mampu beraktivitas, karena nilai satu-satunya yang dapat diraih hanyalah aktivitas. Apa daya manusia dalam kehidupan tanpa aktivitas.

Masuk di adegan keempat, Asita, yang banyak dibantu oleh Andy S.W. dan Ari "Nyong" Dwianto dalam pengejawantahan makna dalam gerakan, memunculkan brecht dengan adanya dialog. Muncul di adegan ini kata-kata yang sesungguhnya tak lazim ada dalam sebuah gelaran pantomim. Endang Lestari dan Joko Sutekno berjumpa dalam kesederhanaan. Endang Lestari adalah perawan muda yang bau apeg namun lugu, dia sungguh menarik di penglihatan Joko Sutekno yang bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil, walau Joko Sutekno ternyata terhempas pada keadaan ekonomi yang menjepit, dia berjualan ikan tongkol dan badeng.

Kisah-kasih Endang Lestari dan Joko Sutekno menjadi kisah yang tidak biasa ketika diletakkan dalam konteks aktivitas manusia modern. Permasalahan cinta mereka menjadi tidak sederhana. Tidak sekedar aku suka aroma tubuhmu dan aku menginginkannya ... karena plastik menutupi kepalsuan dunia. Dunia membutuhkan gairah cinta mereka berdua. Akan tetapi dunia memilih plastik untuk eksistensinya.

Dalam dua adegan terakhir, Asita berhasil memunculkan makna atas gerakan-gerakan empat pantomimer tersebut. Nihilisme, dekonstruksi, dan kekosongan aktivitas manusia menjadi salah satu simpul yang mengkristal ketika manusia tidak mencoba menganalisa kehidupannya. Plastik hanyalah salah satu petunjuk. Masih banyak petunjuk atau pertanda lain yang mampu membawa manusia pada gambaran besar kehidupan. Kematian adalah ironi ketika manusia tidak lagi menjadi gelisah atas kehidupannya.

malam seusai hujan lebat
gerai gerimis masih tesisa
cahaya lampu mercury remang berwarna tembaga
disepanjang jalan sepi dan basah
setangkai lelaki bermata sayu
datang tanpa janji, pergi tak berjejak
melangkap senyap tak mengenal arah
hendak mengikis jejak-jejak kenangan


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini