Gunung Merapi yang tercatat sebagai gunung berapi paling aktif di seluruh dunia, telah kembali mencuri perhatian dari berbagai macam pihak di belahan Bumi ini. Apalagi setelah status aktivitasnya berubah menjadi Siaga sejak hari Rabu, 12 April 2006. Kelompok-kelompok pengamat dari seluruh dunia sejenak menolehkan kepala kepada Gunung Merapi demi mempelajari aktivitas vulkanologinya.
Akan tetapi, di lain pihak, orang Jogja menjadi sibuk dengan munculnya gejala-gejala
vulkanik Gunung Merapi yang semakin meningkat. Tindakan tersebut lazim disebut
sebagai antisipasi letusan Gunung Merapi. Seorang kawan media dari Jakarta, Aditya
Danamurti, mengatakan bahwa orang-orang Jogja memang pantas ribet. Mengapa pantas ?
Gunung Merapi tercatat meletus lebih dari 37 kali dan letusan terbesar terjadi
pada tahun 1972 yang menewaskan 3000 jiwa. Terakhir meletus pada Selasa Kliwon,
22 November 1994, dengan korban tewas lebih dari 50 jiwa. Di atas kertas, diperkirakan
kekuatan letusan kali ini lebih hebat dari yang terakhir, sehingga memungkinkan
kerusakan yang besar.
Pola pikir rasional dengan gaya moderen tentu akan mengacu pada statistik kejadian
letusan Gunung Merapi dan data aktivitas vulkanik dari alat-alat pemantau yang
canggih. Selain itu juga, rasionalitas menyandarkan diri pada gejala-gejala alam
yang unik. Berkaitan dengan status Gunung Merapi sebagai kawasan lindung sejak
tahun 1931 untuk perlindungan sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan
kabupaten/kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang,
Gunung Merapi dirasa perlu mencuri perhatian dari orang-orang yang berkewajiban
menjaga kelestarian sumber mata air dan ekosistem (kombinasi biosystem, geosystem dan sociosystem) Gunung Merapi yang unik, menarik dan dinamis.
Sedangkan, pola pikir tradisional cenderung bersandar pada kepercayaan masyarakat lokal pegunungan Merapi dengan wangsit, wisik, mimpi, pergerakan kekuatan spiritual, dan lain sebagainya. Di sini, erat sekali kaitannya dengan Ki Jumadil Kobra, (sang penjaga keharmonisan Merapi), mbah Maridjan sebagai orang kepercayaan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak zaman Sri Sultan HB IX, dan juga filosofi sumbu imajiner Gunung Merapi-Tugu Pal Putih-Kraton-Panggung Krapyak-Parangkusumo-Segara Kidul. Namun wangsit dan fenomena spiritual belum menunjukkan batang hidungnya kepada siapapun.
Gunung Merapi memang pantas mendapatkan perhatian lebih. Orang Jogja juga pantas menjadi ribet. Apalagi dengan kenyataan geografis bahwa Gunung Merapi hanya berjarak 30 Km dari arah utara Kota Yogyakarta. Ditambah lagi, Ngarsa Dalem sudah "paring dhawuh" supaya para warga yang tinggal di lereng Gunung Merapi untuk melakukan evakuasi ke daerah yang lebih aman.
Pada dasarnya, antisipasi sebagai tindakan preventif adalah penting dan diperlukan;
entah sudah ada wangsit atau belum.
Blessing in disguise?



Kirim Komentar