Aktivitas vulkanik Gunung Merapi, khususnya awan panas, yang terjadi pada Kamis (08/06) hingga pukul 10.00 WIB terlihat meningkat berdasarkan pengamatan visual dari beberapa titik di sekitar daerah rawan bencana, seperti Kaliurang dan Cangkringan. Hal ini diperkirakan berkaitan dengan runtuhnya Geger Boyo yang terjadi Senin (05/06) yang lalu, dan ternyata awan panas mucul tidak dari puncak kawah Merapi melainkan juga dari celah-celah runtuhan Geger Boyo.
Arah gerak awan panas tersebut bergerak menuju hulu beberapa aliran sungai, yaitu Krasak, Boyong, Gendol, dan Kuning. Hingga Kamis (08/06) pagi (pk 06.00 WIB), awan panas yang teramati dari Pos Kaliurang sebanyak 5 kali ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur 3,5 km, 1 kali ke arah Kali Boyong 4,5 km, dan 13 kali ke arah hulu Kali Gendol 3,0 km.
Sementara guguran lava pijar teramati 11 kali menuju hulu Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2,0 km dan 22 kali ke arah hulu Kali Gendol 1 km. Rekaman seismograf mencatat adanya gempa guguran 84 kali, awan panas 17 kali, MP 2 kali dan gempa tektonik 4 kali.
Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Yogyakarta, Drs. Subandriyo memberikan saran kepada para warga di sekitar lereng Gunung Merapi agar kembali ke barak pengungsian hingga aktivitas vulkanik Merapi menurun. Dalam radius 7 kilometer dari puncak Gunung Merapi, seluruh aktivitas di sepanjang alur Kali Krasak, Bebeng, Bedog, Boyong, Kuning, dan Gendol tetap dikosongkan karena sangat potensial terancam luncuran awan panas.



Kirim Komentar