Caosan Pangentas Bilahi "Sudra Tingal" di lereng Merapi

Oleh : Donum Theo / Senin, 00 0000 00:00

Situasi pasca gempa Jateng-DIY telah membuat banyak orang khawatir, was-was. Orang begitu mudah terhasut dengan berbagai isu tentang gejala alam. Padahal, kalau kita mau sedikit "berkaca dan mendengarkan" gejala alam (baca= lingkungan sosial), kita akan menemukan jejak masa lalu kita, hal mana yang jarang kita lakukan. Kita hanya tahu bagaimana memanfaatkan alam demi memenuhi kebutuhan material kita semata.

Bayangkan saja, berhektar-hektar kawasan lereng Merapi telah habis dikeruk demi pembangunan berbagai fasilitas ekonomi perkotaan. Lorong bawah tanah di bantaran berbagai kali di selatan Yogyakarta ditutup begitu saja oleh dinding-dinding beton pelapis bibir sungai. Pemaksaan penanaman tanaman padat karya tidak dibarengi dengan pengelolaan yang berpihak baik pada kebutuhan orang banyak maupun pada alam sendiri.

Di tingkat negara, kebijakan publik yang melulu berpihak pada kepentingan ekonomi politik telah menggerus kesadaran kita akan arti "kebersamaan" (yang tidak sama dengan gotong royong yang mengerucut pada satu tujuan). Kita saling sikut menyikut untuk berebut kesempatan demi status, jabatan, atau apapun itu. Kita telah kehilangan naluri akan diri yang berakar pada dasarnya.

Tapi sekali lagi, jika kita mau "berkaca dan mendengarkan alam", kita tidak akan mudah terperangah dengan pengaruh dari model pembangunan manusia gaya arus besar masa kini. Kita akan melihat siklus erupsi Gunung Merapi dan pertemuan patahan Laut Selatan sebagai bagian dari konsep equilibrium alam; sebuah hal yang seharusnya menjadi perhatian kita semenjak dulu. Kita akan melihat betapa suburnya tanah kita, betapa mudahnya orang hidup di tanah negeri ini, dan betapa bebasnya demokrasi kita membuka peluang bagi pelbagai perilaku. Kita akan menemukan kesadaran diri yang memiliki daasr, naluri, dan bahkan bahasa sebagai konstruksi budaya yang paling riil.

Acara caosan (Jw. caosan = persembahan) yang akan diselenggarakan pada tanggal 25 Juli 2006 (malam Rabu Wage) di Padepokan Prasetio Budya, Dusun Diwak, Desa Sumber, Kec. Dukun, Magelang ini merupakan ungkapan untuk mengembalikan segala kecarut-marutan ini kepada siklus yang sejati; kepada Ilahi. Pangentasan Bilahi dapat diartikan sebagai mengentaskan kegegeran yang terjadi karena kesalahan diri manusia. Sudra Tingal merupakan penglihatan sudra; bukan sudra sebagai tingkatan status dalam jaringan sosial, tetapi sebagai bentuk kebodohan manusia atas proses kesadaran dirinya sendiri. Bahwa kita semua adalah sudra, dengan segala kebodohan dan kelemahan diri.

Rangkaian acara Caosan Pangentas Bilahi Sudra Tingal yang dimulai pukul 12.00 WIB hingga 24.00 WIB ini memiliki beragam bentuk, tentunya dengan konsep kebersamaan yang saling menghargai dan mempelajari. Terutama dengan bentuk kesenian, bukan sebagai performance, tetapi sebagai wujud proses manusia mengenal diri dan mengejawantahkannya dalam semacam wadag. Di sinilah inti kebudayaan yang utuh: menciptakan manusia yang sepenuhnya sadar akan apa yang dilakukannya (yang terutama akan berimbas pada lingkungan sosialnya).

Dengan demikian, doa / puja / litani / zikir bukan hanya berupa permintaan akan pembebasan dari derita hidup, namun juga epos peradaban manusia yang terkerucutkan pada karya manusia itu sendiri.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    IMMANUEL 94,3 FM

    IMMANUEL 94,3 FM

    Immanuel 94,3 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini