Selama rentang waktu "residensi" tiga bulan, seniman perupa Belanda dan Indonesia "mendarat" dan bertemu di YOgyakarta. Dalam program LANDING SOON, lokalitas sebagaimana globalitasdipertanyakan dan diteliti ulang melalui berbagai tema, visi, dan kondisi. Para seniman diberi kesempatan untuk sepenuhnya konsentrasi bekerja, melakukan uji coba dan interaksi sesama seniman, profesional, dan komunitas tertentu.
LANDING SOON merupakan program kerjasama pertukaran yang diselenggarakan oleh Artoteek Den Haag di Belanda dan Rumah Seni Cemeti Yogyakarta di Indonesia. Didukung oleh Artoteek Den Haag Belanda dan Program Pengembangan dan Kebudayaan Kedutaan Belanda di Jakarta.
Lieven Hendriks
Lieven adalah seorang seniman perupa tinggal di Amsterdam, yang melukis secara
sangat realistik sehingga pada saat yang sama menjadi abstrak. Obyek-obyek pada
karyanya ditemukan apa adanya di sekitar studio dan jalan-jalan seputar Alun Alun
Selatan Yogyakarta. Sampah, seonggok blok beton, cuilan sisa-sisa rumah yang hancur
karena gempa, paku di tembok, dan seruas bambu. Obyek-obyek tersebut dilihat sebagai
patung dan dipilih dengan sangat teliti oleh Lieven dari aspek ilusi dan dramatisnya.
Angki Purbandono
Angki adalah seniman yang tinggal di Yogyakarta dan bekerja dengan fotografi.
Dalam tiga bulan proyek ini, dia mengembangkan ide untuk mengumpulkan foto-foto
kuno hitam putih. Mondar-mandir ke pasar loak, memburu foto-foto kuno itu dan
mulai mengelompokkannya. Beberapa image yang terseleksi ditransfer menjadi neon
box yang terinspirasikan dari image setting tersebut. Angki juga berusaha menghubungi
orang-orang yang berada di dalam foto-foto itu dan menemukan seseorang yang kemudian
ia wawancarai.
Sara Nuytemans
Sara adalah seniman perupa tinggal dan bekerja di Den Haag, tergoda untuk mengolah
tegangan antara kebenaran obyektif dan yang pribadi, pemahaman intuitif dan analisa
logis, Pada karya-karya instalasinya, ia menyatukan tingkatan realitas yang berbeda-beda
dengan cara menciptakan interaksi antara dunia virtual dan dunia wadag. Wujud
dari gabungan realitas ini merupakan pengalaman akan munculnya batas-batas pemahaman.
Selama program residensi di Yoygakarta, Sara menciptakan instalasi video yang
site specific, obyek-obyek mekanik; sebagai reaksi dan interaksi dengan lingkungan
sekitarnya; misalnya suara adzan masjid.
Arya Pandjalu
Arya adalah seniman yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Ide Arya muncul dengan
mengumpulkan roda, mentransformasikannya menjadi kendaraan mainan yang berukuran
lebar di belakang. Menggunakan kulit ban yang diukir seperti "lino cut", ia memasang
lembaran karet itu pada seluruh roda belakang. Saat kendaraan itu dijalankan,
akan menghasilkan cetakan sablon di permukaan jalan. Bersepeda sekaligus beraksi
di sepanjang jalan-jalan di Yogyakarta, Arya menyablonkan kalimat untuk mengingatkan
para pemakai jalan agar mengurangi kecepatan dan lebih selamat.
Silakan datang pada saat Artists Talk dan diskusi di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta Jl. DI Pandjaitan No 41 Yogyakarta 55143, Jumat 26 Januari 2007, pada pukul 19.00 WIB.



Kirim Komentar