Proses identifikasi jenazah tidak dapat dengan cepat diketahui hasilnya. Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh sebelum menyatakan jenazah tersebut dinyatakan identified. Data postmortem dan antemortem harus dicocokkan terlebih dahulu. Pernyataan tersebut diutarakan oleh Prof. Etty Indriati, ahli antropologi forensik dari UGM yang siang tadi hadir mendampingi tim forensik dan direktur RSUP Dr Sardjito, Sri Indarini dalam acara jumpa pers di gedung Bulat RSUP Dr Sardjito.
"Meskipun data postmortem (setelah meninggal) telah didapat, data ini tidak akan berguna jika data antemortem (sebelum meninggal) belum didapat. Setelah data antemotem didapat pun proses pencocokkan juga membutuhkan waktu, tidak bisa tergesa-gesa", jawabnya kepada wartawan siang tadi.
Rencananya hari sabtu (10/03) DVI Australia akan memberikan data antemortem jenazah yang diperkirakan sebagai warga negeri Kangguru itu. Menurut Profesor yang juga seorang penulis dan pelukis, semakin cepat data antemortem yang didapat semakin cepat pula proses identifikasi korban.



Kirim Komentar