Meski rumah Sunandar (39 thn) telah berdiri dan dapat dihuni kembali bersama
keluarganya, beban berat masih harus dipikul pria asli Palembang ini ketika usaha
lesehan yang dibuka beberapa bulan pasca gempa Jogja 2006 lalu ternyata sepi pembeli.
Warung makan yang mejadi penopang hidup keluarga ini sengaja dibangun untuk menjadi
sumber penghasilan pasca gempa. Namun apa mau dikata, pelanggan yang kebanyakan
adalah mahasiswa jarang lagi berkunjung ke warungnya yang beralamat di Jl. Ipda
Tut Harsono No. 65 Yogyakarta.
Sunandar adalah satu dari ribuan korban yang rumahnya rusak akibat gempa Jogja.
Dengan usaha keras dan bantuan dari beberapa pihak, akhirnya rumah dan warungnya
dapat berdiri kembali. Hingga satu tahun gempa Jogja, keadaan ekonomi terasa semakin
berat menurut bapak dua anak ini, "Ekonomi masih susah, warung saya sepi pembeli,
tidak tahu apa karena jumlah mahasiswa di daerah sini (Sapen) yang berkurang atau
memang daya beli masyarakat turun", keluhnya kepada GudegNet siang tadi di warungnya
yang masih sepi.
Pernah suatu ketika, Sunandar mengajukan kredit lunak ke berbagai instansi keuangan.
Dengan berbagai alasan yang prosedural, pihak instansi tidak dapat memberikan
pinjaman dengan alasan tidak adanya agunan yang sukup untuk meminjam modal. Sunandar
berharap nantinya pemerintah dapat memberikan kebijakan pemberian modal tanpa
agunan bagi korban gempa Jogja untuk dapat digunakan sebagai modal usaha untuk
bertahan hidup.
Gempa 27 Mei tercatat telah menghancurkan 157.000 di DIY dan Jateng, 130.000
diantaranya telah berdiri kembali dan sisanya masih dalam tahap penyelesaian.
Kembali berdirinya rumah yang rusak akibat gempa sepatutnya tidak menjadi tujuan
akhir dari proses pemulihan gempa Jogja. Sektor pariwisata, pendidikan dan ekonomi
masih harus menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seluruh pihak untuk
kembali membangkitkan kehidupan masyarakat DIY dari keterpurukan akibat gempa.
(1 Tahun Gempa Jogja) Rumah Berdiri, Usaha Sepi




Kirim Komentar