Akhirnya saat yang ditunggu telah tiba, NGAYOGJAZZ 2007 telah digelar pada hari Minggu kemarin (04/11) dengan sukses, di Padepokan Bagong Kussudiardja.
Rangkaian acara yang dimulai sekitar pukul 14:00 WIB ini, diawali dengan pembukaan
bazaar yang terdiri dari stand-stand yang menjual berbagai macam barang dan makanan,
sambil sesekali dilatarbelakangi oleh beberapa musisi yang sedang melakukan check
sound dalam rangka persiapan penampilan mereka nanti. Yang dilanjutkan dengan
performance perkusi di beberapa titik di sekitar panggung, dan penampilan dari
kelompok musik Gudeg Jogja.
Kemudian sekitar 16:00 WIB rombongan merti desa tiba di lokasi acara Ngayogjazz dengan disambut iringan perkusi dan kesenian
tradisional jathilan serta angguk, rombongan ini segera menuju ke panggung 1,
yang merupakan salah satu panggung dari tiga buah panggung yang ada di lokasi
acara.
Semula panggung memang direncanakan akan ada lima buah, akan tetapi karena beberapa
kendala teknis, terutama cuaca yang dikhawatirkan akan turun hujan, maka panggung
yang tersedia hanya tiga buah saja, yaitu dua panggung pendukung dan satu panggung
utama.
Namun demikian, hal ini sama sekali tidak mengganggu kelancaran acara, juga tidak
menghalangi para pengunjung untuk menikmati sajian demi sajian yang disuguhkan
pada perhelatan Ngayogjazz 2007 kali ini.
Setelah prosesi merti desa, acara dilanjutkan oleh penampilan dari Caravan di panggung 1, kemudian acara langsung dilanjutkan di panggung 2 yang menampilkan
kesenian tradisi dari Kulon Progo yaitu Angguk. Kelompok Musik Academy for Far Side menutup rangkaian acara ini sebelum memasuki break Adzan Maghrib.
Sujud yang terkenal dengan kendang tunggalnya membuka rangkaian acara setelah break Maghrib di panggung 1. Para penonton banyak yang terhibur dan ikut tertawa mendengarkan
lirik-lirik lagu yang jenaka, khas Sujud.
Acara dilanjutkan di panggung 2 di mana di sana tampil Living Room yang kemudian mengiringi Syaharani bernyanyi menghibur penonton yang berjumlah sekitar 1000 orang yang memenuhi
Padepokan Bagong Kussudiardja itu.
Pertunjukkan kembali dilanjutkan di panggung 1 di mana rencananya akan ditampilkan
kolaborasi antara Jathilan yang akan masuk dari luar panggung dengan band Atillion dari Jakarta yang telah bersiap di panggung.
Akan tetapi karena jumlah penonton yang cukup banyak dan memadati sekitar panggung,
maka rombongan jathilan agak terhambat untuk menuju tempat pertunjukkan. Namun
demikian, para pengunjung masih tetap dapat menikmati aksi jathilan tersebut melalui
layar yang disediakan di sebelah kiri panggung.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan Travel Band yang mengusung beberapa nomer, dan langsung dilanjutkan dengan penampilan Iga Mawarni dengan suara khasnya yang berat dan lembut.
Akhirnya penghujung perhelatan ini, penonton bersama-sama diajak menuju panggung
utama, untuk menikmati rangkaian penampilan dari Band Setia Kawan yang pada kesempatan ini berkolaborasi dengan Purwanto, seorang musisi senior dari Kua Etnika, yang pada kesempatan memainkan alat musik tradisonal Kenong, yang mendapat sambutan luar bisa meriah dari para penonton karena perpaduan
antara warna tradisional dan warna modern dapat berpadu dan saling melengkapi
dengan indahnya.
Perpaduan antara musik tradisional dan modern yang apik ini juga dapat dinikmati
ketika giliran Viki Sianipar memainkan alat musik khas batak Godang Tagading yang dengan lincahnya dapat berkolaborasi dengan permainan drum ketika sesi
jam session.
Suasana semakin meriah ketika Trie Utami tampil dan dengan akrabnya saling bertukar tegur sapa dan canda dengan para
penonton. Selesai menyanyikan beberapa nomer lagu, Mbak Iie --panggilan akrab
beliau-- memanggil Nyong Anggoman seorang musisi senior yang cukup populer sekitar tahun delapan puluhan, untuk
bermain musik bersama. Lalu meluncurlah beberapa lagu yang sangat akrab di telinga
ketika tahun delapan puluhan antara lain It Might Be You, yang pernah dibawakan oleh Steven Bishop.
Puncak acara ini ditutup dengan dipanggilnya seluruh bintang tamu untuk tampil
di panggung utama dan ber-jam session bersama, dan di sesi terakhir ini, salah
seorang anggota komunitas Jazz yang datang dari Surabaya, Mas Bagus, ikut meramaikan jam session penutup ini dengan menunjukkan kemampuannya menguasai
alat musik keyboard.
Acara yang diakhiri sekitar puluk 23:30 WIB ini, benar-benar memuaskan para pengunjung
yang hadir kala itu. Bahkan seorang pengunjung, Bagas (27), benar-benar dengan
semangat mengikuti perhelatan ini dari mulai pembukaan di siang hari hingga acara
selesai, tanpa sekalipun meninggalkan lokasi Padepokan Bagong Kussudiardja.
Sementara itu, dari sisi pengunjung, dengan jumlah penonton yang sekitar 1000
orang untuk sebuah pertunjukkan Jazz seperti ini, sangat dapat dianggap sebuah
prestasi tersendiri yang luar biasa. Baik dari sisi penyelenggaraan, maupun dari
sisi kenyataan, yang ternyata tingkat apresiasi masyarakat Jogja terhadap musik
Jogja sangat luar biasa, dan nampaknya bagi penduduk Jogja, hipotesa yang menyatakan
musik Jazz adalah musik elit, nampaknya tidak terbukti.
Foto-foto: Hera Ariani dan Indra Wicaksono (Pak Jepret)



Kirim Komentar