"Bagaimana? Apakah acara ini mau diadakan lagi tahun depan?"
Demikian sebuah pertanyaan dari Djaduk Ferianto di depan para penonton Ngayogjazz 2007 di sela-sela penampilan terakhir para
musisi di perhelatan tersebut.
Dan menanggapi "tantangan" ini, kompak seluruh penonton tanpa dikomando menjawab,
"Mauuuuuuuuuuuuuuuu........"
Mendengar tanggapan ini, Djaduk Ferianto menyampaikan terima kasihnya kepada
segenap pihak yang telah mendukung acara ini, dan juga kepada penonton yang hari
itu datang dan memenuhi Padepokan Bagong Kussudiardja guna ikut menikmati suguhan-suguhan yang disajikan dan dikonsep oleh panitia.
Djaduk tidak lupa juga menghimbau agar lebih banyak lagi "sinterklas-sinterklas"
yang perduli dan membantu agar dapat terlaksana kembali Ngayogjazz tahun depan
dengan sukses.
Untuk beberapa kasus, memang jumlah sponsor yang mau mendukung pelaksanaan sebuah
perhelatan musik jazz tidak sebanyak sponsor yang ikut mendukung pelaksanaan acara-acara
musik lain selain jazz. Apalagi jika itu hanya dalam lingkup lokal dan tidak melibatkan
musisi-musisi dari mancanegara yang banyak dikenal masyarakat luas.
Mungkin sekali pertimbangan bisnis sangat mempengaruhi hal tersebut, akan tetapi
jika para sponsor melihat bagaimana antusias penonton di acara Ngayogjazz 2007
ini, yang mencapai sekitar 1000 orang lebih, tentu mereka akan memikirkan kembali
pertimbangan-pertimbangan mereka tersebut.
Bayangkan, dari jam 14:00 WIB hingga 23:30 malam, Padepokan Bagong Kussudiardja
yang menjadi venue acara ini tidak pernah terlihat sepi dari pengunjung. Walaupun
pada saat itu di beberapa daerah di Jogja turun hujan, dan mendung selalu menggelayuti
langit Padepokan Bagong Kussudiardja, namun semua itu tidak menyurutkan antusiasme
para pengunjung. Mereka terus datang berbondong-bondong membanjiri venue acara
ini.
Di sisi lain, menurut Ajie Wartono, salah seorang pantia acara ini, beliau menilai acara ini sangat sukses pelaksanaannya.
Hal itu dapat dilihat dari besarnya pengunjung, banyaknya stand yang mengisi bazaar,
sehingga suasana pasar rakyat benar-benar tercipta, berpadunya kesenian tradisional
dan modern, serta respon pengunjung yang ikut berpartisipasi dalam jam session sangat tinggi.
Ini juga sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Trie Utami ketika di atas panggung, "Acara ini dalam rangka me-marginalkan musik jazz."
Tentu saja ungkapan ini dalam artian positif, di mana jazz yang selama ini identik
dengan musik elit dan hanya dapat dinikmati oleh kalangan "atas", pada kesempatan
ini terbukti bahwa musik jazz dapat dinikmati oleh segenap kalangan dengan suasana
yang sangat memasyarakat, sambil duduk lesehan, dan menikmati jajanan-jajanan
tradisional yang dijual di sekitar venue.
GudegNet sendiri dalam kesempatan ini juga ingin mengucapkan terima kasih kepada segenap
panitia Ngayogjazz 2007 karena telah diajak untuk turut berpartisipasi dalam perhelatan
ini.
Semoga cita-cita para pemrakarsa Ngayogjazz, serta harapan para pengunjung untuk
bisa bertemu lagi dengan Ngayogjazz 2008 dapat terlaksana dengan dukungan berbagai pihak yang berkompeten.
Sampai jumpa lagi di Ngayogjazz 2008!



Kirim Komentar