Sebuah pengalaman hidup tak jarang mampu menjadi sebuah kesaksian sekaligus bahan
renungan yang dapat dituangkan dalam berbagai bentuk media. Sebagai contoh, "Inilah
Pamflet Itu", sebuah
antologi puisi yang diciptakan oleh sastrawan era 50-an yang pernah menjadi tahanan
politik Orde Baru, Hersri Setiawan.
"Inilah Pamflet Itu" merupakan kumpulan puisi yang diciptakan ex tahanan politik
Pulau Buru ini sejak
tahun 1975-2005, di
mana puisi di dalamnya sebagian besar merupakan pengalaman fisik dan psikologis
orang yang sempat menjadi ketua Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Yogyakarta ini.
Sebagian dari puisi "Inilah Pamflet Itu" yang diantaranya adalah Sajak Ulang Tahun, Macapat Baru (Pertemuan dengan Istri), Malam Penyair, Musim
Gugur, Tsunami 2, Pagi Terakhir di Kockengen, dan Tanpa Suara; merupakan contoh dari puisi kontemplatif yang pada dasarnya merupakan hasil
kontemplasi (renungan-red) mendalam atas kehidupan yang dialami oleh si aku-lirik
(penulis-red)
"Beberapa puisi di "Inilah Pamflet Itu" seperti Sajak Ulang Tahun, Macapat Baru (Pertemuan dengan Istri), Malam Penyair, Musim
Gugur, Tsunami 2, Pagi Terakhir di Kockengen, dan Tanpa Suara merupakan sebuah kontemplasi dari kehidupan masa lalu Hersri Setiawan," papar
Yoseph Yapi Taum dalam acara Diskusi Bedah Buku "Inilah Pamflet Itu" pagi tadi
(23/11) di ruang seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Menurut dosen Prodi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma
ini, buku "Inilah Pamflet Itu" memiliki komitmen moral dan kewajiban politik.
Buku ini mampu menjadi potret dan suara zaman yang diciptakan oleh seorang mantan
tapol di Pulau Buru yang bersimpati pada perjuangan buruh tani yang juga telah
mengalami berbagai tekanan fisik dan psikologis. Eloknya, dalam menuliskan kekecewaan
dan kemarahannya terhadap pihak yang menzaliminya, Hersri tidak menggunakan bahasa
provokatif bahkan menyelipkan beberapa ungkapan patriotisme dan optimisme untuk
lebih baik di masa depan.
"Dalam buku ini, Hersri menggunakan bahasa lembut dan tidak vulgar. Dia juga
membubuhkan ungkapan patriotisme bagsa serta optimisme untuk masa depan yang lebih
baik. Tak heran, buku ini, mampu menjadi potret dan suara zaman," tambah Yapi.
Senada dengan Yapi, Joko Pinurbo berpendapat bahwa "Inilah Pamflet Itu" adalah
sebuah pembenaran dari pengalaman langsung yang pernah dialami oleh Hersri Setiawan
semasa hidupnya.
"Buku ini adalah refleksi dari masa lalu dari pengalaman si aku-lirik yang ditempa
dengan berbagai penderitaan. Namun yang mengagumkan adalah buku ini tidak memprovokasi
kita untuk balas dendam, namun hanya sinisme dan kemarahan," jelas Joko Pinurbo.
Meski buku setebal 160 halaman yang terdiri dari 75 puisi ini sebagian besar
ditulis di Kockengen,
Belanda, namun semangat kebangsaan penulis juga diekspresikan pada beberapa puisinya,
di samping optimisme dalam penderitaan yang menjadi tema utama dari sebagaian
besar puisinya.
Buku yang secara khusus dipersembahkan bagi para korban dan survivor rezim orde baru ini secara tersirat juga berpesan agar kita mendengar dan mengetahui
sejarah yang pernah terjadi di Indonesia serta tidak melupakan sejarah tersebut.



Kirim Komentar