Pendopo Ajiyasa Jogja National Museum pada 19 November 2007 malam, dipadati sekitar 300 penonton yang menyaksikan eksplorasi musik dari
sebuah band indie, Risky
Summerbee & The Honeythief (RSTH). Selama satu jam, penonton disuguhkan olahan
musik berformat band, juga string quartet dengan komposisi komposisi kontemporer
dan dua lagu RSTH.
Pertunjukan dimulai dengan satu lagu RSTH berjudul "The Place I Wanna Go" yang menyiratkan bahwa acara ini adalah sebuah konser band seperti pada umumnya. Tapi ketika komposisi kedua dimainkan, maka yang terdengar adalah keriuhan yang tertata, karena kuartet gesek yang terdiri dari Kelik Desta, Budi Hast, Harel Arganata dan Edo , juga sudah bermain menyatu dengan band.
Komposisi panjang selama satu jam mereka mainkan dan biarpun panjang, penonton tetap tidak beranjak karena fase demi fase, komposisi itu menjelma menjadi pola yang berbeda. Kadang blues, kadang waltz, kadang kontemporer dan tak ternamakan.
Konser musik yang diberi judul "The Rise and Fall of a Scoundrel Queen" ini, memang
menjadi pijakan RSTH untuk mencari bentuk lain dari musik psikedelik yang sempat
booming pada akhir tahun 60-an.
Pada kenyataannya, entah psikedelik maupun bukan, tapi RSTH mampu membuat penonton tercengang dengan pola kontemporer yang keluar dari sebuah band indie.
Secara musikal, konser itu menyajikan beberapa cerita dalam beberapa fase yang didukung dengan videograf "The Departure" yang diproyeksikan pada layar di belakang para musisi. Serta seorang performer, Linda Mayasari, yang pada awal pertunjukan berfungsi sebagai MC.
Bentuk musik psikedelik ala 60-an, terasa kental dengan permainan gitaris, Erwin Subiyantoro diiringi rhythm section, Sevri Hadi pada drum, dan
Doni Kurniawan pada bass. Tapi selain itu pada beberapa bagian komposisi psikedelik
yang telah diolah bersama selama hampir 3 bulan ini juga menyiratkan nuansa lain
seperti musik klasik.
Eksplorasi musik dalam pertunjukan ini dinilai sebagai sebuah progres untuk sebuah band indie karena didalamnya terdapat unsur-unsur musik yang jarang disentuh oleh band pada umumnya.
Pertunjukan ini diakhiri dengan penggalan lagu RSTH berjudul "Slap and Kiss" yang dinyanyikan vokalis, Risky Summerbee, setelah sebelumnya keyboardist Nadya Octaria, mengalunkan nada-nada melodius bernuansa gelap pada piano. Dengan bermaterikan sembilan musisi, RSTH berhasil mempresentasikan musikalitas yang baru dalam format konser psikedelik.
Tepuk riuh penonton pada akhir pertunjukan setidaknya mengaklamasi pencapaian musikalitasnya dalam sebuah konser yang tidak konvensional.
Foto-foto oleh: Herliansyah dan Sukirman



Kirim Komentar