"Karena kamu benar, maka kamu salah..."
Demikianlah yang dikatakan seorang pengacara kepada kliennya, seorang tukang
topeng monyet keliling, yang karena keluguan dan kejujurannya malah menjebloskannya
ke balik pintu penjara.
Adegan tersebut merupakan salah satu bagian dari pertunjukkan monolog Butet Kartaredjasa dengan berjudul Sarimin, yang dipentaskan tadi malam (26/11) di Gedung Purna Budaya Bulaksumur, yang sekarang bernama Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri.
Pementasan yang ceritanya ditulis oleh Agus Noor ini, mengisahkan pengalaman Sarimin, si tukang topeng monyet keliling, yang
karena ketidaksengajaannya menemukan sebuah Kartu Tanda Penduduk. Karena buta
huruf, maka ia tidak dapat mengetahui siapa pemilik KTP tersebut. Oleh karenanya
dengan itikad baik, Sarimin kemudian mengantarkannya ke kantor polisi, dengan
harapan Pak Polisi-lah nanti yang mengantarkan KTP tersebut kepada yang empunya.
Dari sinilah dimulai kejadian-kejadian yang hampir tidak pernah dibayangkan oleh
Sarimin, mulai menimpa dirinya, dan ironisnya semua itu terjadi hanya karena kejujuran
dan niat baiknya.
Pada pementasan yang berdurasi kurang lebih dua jam ini, Butet mampu mengeksplorasi
peran dari tokoh-tokoh yang ada dalam cerita ini dengan hampir sempurna.
Apalagi
didukung dengan kemampuan olah tubuhnya yang cukup dinamis, unik, kaya, dan variatif,
sehingga dapat membantu memberikan batas-batas tegas ketika memerankan satu tokoh
dengan tokoh lainnya.
Hal menarik lainnya, agak berbeda dengan monolog-monolog lain, di mana sang aktor
adalah satu-satunya penguasa pusat perhatian di atas panggung, dalam monolog ala
Butet ini, selain sang aktor, di tengah-tengah panggung juga terdapat para musisi
pimpinan Djaduk Ferianto, yang menghiasi pentas ini dari sisi latar belakang musik, namun juga dari segi
tampilan artistik.
Tidak berhenti sampai di situ, Djaduk dan kawan-kawan juga saling bertukar komentar
dan celetukan dengan Butet di panggung, ini mengingatkan kita akan pementasan
ala Teater Gandrik.
Sehingga, sah saja ketika ada yang mengatakan bahwa ini bukan merupakan monolog
"murni", sementara di sisi lain ada yang berpendapat,"Ya seperti inilah monolog
gaya Butet Kartaredjasa."
Namun di luar semua itu, pementasan yang dihadiri sekitar seribu orang penonton
ini, semakin mengukuhkan keberadaan
Butet Kartaredjasa di dunia teater Indonesia, sebagai seniman teater yang sangat
piawai bermonolog.
Foto-foto: Hera Ariani (PakJepret)



Kirim Komentar