Yang Tua, Yang Dilupakan

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00
Yang Tua, Yang Dilupakan

Mural Jembatan Layang LempuyanganMenyaksikan lukisan mural karya anak muda Yogyakarta yang terpampang di berbagai sudut di kota gudeg ini mungkin telah menjadi suatu hal yang lazim dijumpai, namun bagaimana jika seorang berumur 60-an yang menorehkan kuasnya di sebuah dinding sepanjang lebih dari 100 meter?

Adalah Cipto Wibakso (65), seorang seniman otodidak yang sejak 21 Oktober lalu telah memulai pekerjaannya sebagai pelukis mural di tembok Jembatan Layang Lempuyangan Yogyakarta sepanjang 120 meter.

Meski mengaku ragu ketika ditawari untuk melukis mural oleh koordinator Jogja Mural Forum Samuel Indratma, namun lelaki yang hingga kini masih aktif menjadi pekerja artistik di taman hiburan Purawisata ini akhirnya mau menerima tawaran untuk melukis mural di tembok jembatan layang Lempuyangan.

"Awalnya saya ragu ketika ditawari melukis mural oleh Samuel Indratma, namun setelah diberikan pengertian saya akhirnya mau melukis sesuai dengan kemampuan dan bidang saya yaitu seni tradisi. Apalagi ketika diberitahu bahwa bukan hanya saya yang akan melukis mural tersebut, ada teman-teman seniman tua lainnya seperti Lejar dan Lasno," jelas Cipto kepada GudegNet siang tadi (04/12) disela-sela pekerjaanya melukis mural.

Jika pelukis mural (muralis-red) lain biasanya melakukan pekerjaanya pada malam hari, Cipto justru melakukannya sejak pukul 08.00 - 15.00 WIB karena pada malam harinya harus bekerja di Purawisata. Meski sebagaian waktu kerjanya dihiasi dengan suasana panas menyengat dan asap kendaraan yang lewat, namun lelaki yang baru pertama kali melukis mural ini tetap melakukan pekerjaanya dengan sepenuh hati.

Dengan kombinasi warna yang sederhana, lukisan Cipto dapat dengan mudah dinikmati setiap orang yang sedang melewati Jembatan Layang Lempuyangan. Terlebih jika sedang terjebak pintu lintasan Kereta Api, lukisan yang diperkirakan rampung pada akhir bulan ini sedikit banyak akan mampu menghibur pengguna jalan yang sedang menunggu kereta api yang sedang melintas.

Lukisan dengan tema Ramayana "Romo tambak" ini menurutnya akan memberikan ajaran yang baik kepada semua orang akan pentingnya kebenaran, keadilan dan kejujuran; di samping untuk melestarikan seni budaya tradisional. "Semoga tema lukisan dengan tema "Romo tambak" ini akan mampu memberikan ajaran yang baik kepada semua orang akan pentingnya kebenaran, keadilan dan kejujuran; di samping untuk melestarikan seni budaya tradisional kita," tambah Cipto.

Sementara itu, ketika dihubungi GudegNet, koordinator Jogja Mural Forum, Samuel Indratma menjelaskan bahwa proyek mural tersebut sebagai penghargaan terhadap seniman tua seperti Cipto Wibakso, Lejar dan Lasno yang notabene merupakan aset lokal yang patut diingat oleh masyarakat Yogyakarta.

"Mural di Jembatan Layang Lempuyangan ditujukan untuk mengingatkan kembali masyarakat bahwa Yogyakarta mempunyai seniman berbakat yang usianya rata-rata di atas 50-an yang juga mampu menghasilkan karya seni yang luar biasa yang bahkan telah dikenal di Eropa," tandas Samuel.

Sebagai informasi, Samuel Indratma sebagai koordinator JMF (Jogja Mural Forum) telah beberapa kali diundang ke luar negri untuk mempresentasikan karyanya sebagai salah satu bentuk media visual yang tak hanya mampu memperindah pemandangan kota namun juga mampu memberikan muatan sosial di dalamnya.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    IMMANUEL 94,3 FM

    IMMANUEL 94,3 FM

    Immanuel 94,3 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini