"Paper Can Not Wrap Up Embers" Awali Festival Film Dokumenter 2007

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

festival_film_dokumenter_2007Tangisan anak kecil di sebuah pemukiman sederhana di sudut kota di Kamboja mengawali film "Paper Can Not Wrap Up Embers" yang sekaligus membuka Festival Film Dokumenter 2007 Senin malam (10/12) di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Film terbaru karya Rithy Panh ini merupakan film dokumenter Kamboja-Perancis yang ditayangkan di Festival Film Dokumenter ke-6 ini, selain ke-13 nominasi film dokumenter yang akan berkompetisi serta puluhan film lain dari berbagai negara.

Film berdurasi 90 menit ini bercerita tentang kehidupan para wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kamboja yang datang dari kampung dan berjuang demi hidup mereka serta keluarganya dengan menjual tubuh mereka.

Sebagai kaum tak berdaya, mereka (pekerja seks komersial-red) sering kali mendapat perlakuan yang sewenang-wenang dari para pelanggan mereka, mulai dari dipukuli hingga diancam akan dibunuh jika tidak menuruti apa yang pelanggan inginkan dari mereka.

Tak hanya harus senantiasa siap berdekatan dengan kekerasan, kesewenang-wenangan, dan narkoba; mereka juga harus siap dengan resiko tertular virus mematikan yakni HIV AIDS yang hingga kini belum ada obatnya.

Pada siang hari, para Pekerja Seks Komersial (PSK) melakukan aktifitas seperti layaknya orang biasa. Mereka hidup dengan sangat sederhana di bawah pengawasan ketat mucikari mereka yang tak kalah kejam dengan pelanggan mereka.

Saat malam menyapa, mereka akan bekerja mencari pelanggan yang diharapkan akan memberikan beberapa lembar uang untuk melanjutkan hidup mereka, keluarga mereka dan yang pasti mucikari mereka yang sering marah jika tak dapat setoran.

Dari film ini dapat ditemukan pesan moral bahwa sebagai kaum rendah, mereka hanya bisa pasrah untuk diperlakukan semena-mena dari siapapun baik pelanggan, mucikari bahkan pemerintah. Mereka juga harus menerima untuk selalu menjadi pihak yang disalahkan dalam berbagai hal seperti ketertiban, pembawa penyakit (AIDS-red) hingga dianggap sebagai sampah masyarakat.

Melalui film ini, para Pekerja Seks Komersial (PSK) berharap untuk mendapatkan persamaan hak seperti halnya manusia lainnya. Mereka berharap untuk tidak hanya menjadi pihak yang selalu disalahkan karena sesungguhnya mereka juga tidak menikmati pekerjaannya. Semua hanya demi lembaran uang untuk melanjutkan hidup mereka.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    IMMANUEL 94,3 FM

    IMMANUEL 94,3 FM

    Immanuel 94,3 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini