Berlandaskan semangat kebangkitan yang sama, para perupa Bantul meluapkan kegembiraan
dalam berkarya dengan memamerkan lukisan, patung dan cipta kriya mereka dalam
pameran yang bertajuk "Perupa Bantul Bangkit".
Pameran yang rencananya akan di buka hari Rabu (12/12) hingga 18 Desember ini ingin membuktikan bahwa pasca gempa 27 Mei 2006 lalu, masyarakat Bantul telah
kembali bangkit untuk membenahi kehidupan mereka. Industri kerajinan sebagai salah
satu pemutar roda ekonomi Bantul mulai bergerak. Desa Krebet, pusat kerajinan
batik kayu mulai disibukkan dengan tangan-tangan terampil membatik kayu; di desa
Giriloyo - Imogiri, sentra batik tulis pewarna alam mulai menyiapkan diri untuk
mengikuti pameran di Bali; di desa Pucung Barat, Imogiri suara ketukan palu menatah
kulit melantun merdu membentuk wayang kulit dan kerajinan kulit lainnya; sedangkan
di Kasongan putaran roda-roda pembentuk gerabah mulai memenuhi pesanan-pesanan
dari dalam dan luar negeri.
Menurut ketua pelaksana acara Timbul Raharja, Bantul sebagai salah satu pusat
seni rupawan nasional maupun internasional seperti Joko Pekik, Agus Kamal, Nasirun
dan Maryono harus kembali bergairah kehidupan seni dan budayanya. Acara ini bertujuan
sebagai hajatan seni akhir tahun para perupa Bantul. "Industi kerajinan dan seni
Bantul telah kembali bergairah. Pameran ini sebagai hajatan seni akhir tahun para
perupa Bantul," ungkapnya.
Acara ini juga didukung oleh Dewan Kesenian Bantul dan Jurusan Kriya Institut
Seni Indonesia. Menurut Ketua Dewan Kebudayaan Bantul Sumaryono, acara ini digelar
sebagai bukti dukungan pemerintah Dati II Kabupaten Bantul kepada seni dan budaya
serta para pelakunya. Pemerintah sebagai orang tua masyarakat berusaha mengayomi
seluruh bagian masyarakat termasuk para perupa dan budayawan.
Sebanyak 37 lukisan serta 20 patung dan kriya logam dan kayu akan dipamerkan
dalam pameran yang akan berlangsung di Galeri Seni Rumah Budaya Tembi, Jl. Parangtritis KM 8,4 Sewon Bantul.



Kirim Komentar