PKL Samirono Tolak Relokasi

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

Maraknya Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Kolombo Yogyakarta (depan kampus UNY dan depan RS Panti Rapih-red) dalam lima hari ini memang tidak seramai sebelumnya. Pembangunan taman di sepanjang Jalan Kolombo ternyata yang memaksa mereka untuk tidak berjualan hingga selama lima hari terakhir.

Hingga hari Rabu (12/12), hanya sebagaian pedagang yang sebagian besar berjualan kaca mata, baju, sepatu dll memutuskan untuk membuka lagi dagangan mereka demi memberi makan keluarganya. Namun baru saja berniat membuka kios dagangan, pagi tadi (2/12) Satpol PP Sleman justru membongkar konblok sebagai alas tempat mereka berjualan. "Dari lima hari kemarin saya tidak berjualan. Eh, tadi pagi baru mau buka kios kok malah dibongkar Satpol PP," keluh Sumarni, penjual kaca mata di Jalan Kolombo.

Merasa tersinggung dengan aksi Satpol PP, puluhan pedagang sempat bersitegang dengan Satpol PP yang hendak melakukan penggusuran. Mereka merasa bahwa tersebut adalah hasil dari swadaya pedagang, sehingga Satpol PP tidak berhak untuk membongkarnya. Lagipula, mereka juga belum tahu kalau akan ada penggusuran karena belum ada kesepakatan yang jelas antara Pemkab Sleman dengan para pedagang.

"Yang membangun konblok ini adalah pedagang dan bukan Pemerintah, jangan asal bongkar dong. Dari dulu kita telah mengajukan rencana untuk berdialog, tapi tidak pernah ditanggapi. Sekarang kok main bongkar-bongkar saja," seru salah seorang pedagang Sri Raharjo.

Para pedagang sebenarnya tidak keberatan jika pada lokasi mereka berjualan akan dibangun taman, namun mereka tetap menolak adanya penggusuran dan relokasi sebab tidak mudah untuk mencari lokasi berjualan terlebih seperti di Jalan Kolombo yang telah terbentuk image.

"Pada dasarnya kami tidak menolak renovasi, tapi kami menolak relokasi dan penggusuran. Tidak mudah untuk mencari lokasi berjualan, apalagi seperti di sini (jalan kolombo-red) yang sudah mempunyai image sebagai tempat berjualan kaca mata, sepatu, jaket dll," tambah Sri.

Menurut pedagang, alasan keberadaan mereka yang menyebabkan kemacetan, banjir dan mengurangi keindahan kota adalah alasan yang mengada-ada. Menurut mereka kalau ingin menggusur pakai saja alasan karena tidak boleh lagi ada pedagan di Jalan Kolombo, tapi sebelumnya harus melalui pembicaraan terlebih dahulu untuk solusinya.

"Kalau masalah kemacetan dan banjir, dari dulu sebeleum kami di sini, daerah sini juga sudah macet dan banjir. Ga usah cari-cari alasan untuk menggusur kami. Tapi yang penting adalah harus melalui pembicaraan terlebih dahulu untuk menemukan solusi yang terbaik," tambah Sri.

Setelah berdialog dengan Satpol PP, akhirnya puluhan pedagang dipersilakan menemui Asisten Sekretaris Daerah (Asekda) II Sleman untuk mengutarakan keinginan mereka. Sementara itu, aksi pembongkaran konblok pedangang dihentikan menyusul banyaknya pedagang yang menjaga lokasi mereka berjualan.

Dalam aksinya, para pedagang membawa berbagai poster yang diantaranya bertuliskan "Stop Penggusuran", "PKL Bukan Penjahat", "PKL Butuh Makan", dan PKL Bukan Sampah".


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    IMMANUEL 94,3 FM

    IMMANUEL 94,3 FM

    Immanuel 94,3 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini