Pembuat film dokumenter di Indonesia pertama-tama harus percaya pada film yang
hendak dibuatnya. Film yang diciptakan, seharusnya datang dari sesuatu yang benar-benar
"merangsang" pembuat film tersebut untuk memproduksi film tersebut, baru kemudian
mengarahkan ke pasar dengan menentukan siapa saja yang sekiranya harus menonton
film tersebut.
"Untuk membuat film dokumenter, para pembuat film terlebih dulu harus percaya
pada film yang hendak dibuatnya. Film tersebut, biasanya tercipta dari sesuatu
yang sungguh-sungguh "merangsang" pembuat film untuk menciptakan sebuah film.
Baru setelah itu menentukan siapa saja yang harus menonton film tersebut," jelas
salah satu juri Festival Film Dokumenter 2007, Anand Patwardhan dalam acara jumpa pers Rabu (12/12) di Dixie Easy Dining Yogyakarta.
Menurut Anand, pembuat film dokumenter di Indonesia harus berusaha keras untuk
mengembangkan film dokumenter di Indonesia. Hal itu mungkin dapat dilakukan dengan
mengikuti festival-festival seperti ini (festival film dokumenter-red) dan melakukan
berbagai cara dengan memanfaatkan teknologi yang saat ini tengah berkembang seperti
memperbanyak salinan film ke dalam bentuk digital cd atau dvd untuk disebarkan
ke publik melalui berbagai organisasi atau komunitas.
"Pembuat film dokumenter di Indonesia harus berusaha keras untuk mengembangkan
film dokumenter. Beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengikuti
festival-festival film dan memperbanyak salinan film ke dalam bentuk digital cd
atau dvd untuk disebarkan ke publik melalui berbagai organisasi atau komunitas,"
jelasnya.
Pemanfaatan internet mungkin juga menjadi alternatif yang bagus untuk mempublikasikan
film-film karya film maker dokumenter Indonesia karena cara tersebut dirasa lebih
mudah dan murah. "Internet mungkin juga dapat menjadi alternatif bagi film maker
Indonesia untuk mempublikasikan karya mereka untuk dinikmati khalayak," pungkasnya.
Anand Patwardhan adalah seorang pembuat film dokumenter dari India yang kerap
kali mengangkat isu sosial dan politik di India. Meski kerap kali mengalami pencekalan,
film karya aktivis demokrasi dan HAM ini akhirnya lolos dari lembaga sensor India,
Center Board for Film Certification (CBFI) setelah melaui proses persidangan yang sengit.



Kirim Komentar