Minggu malam yang lalu (16/12), dalam rangka program Jagongan Wagen di Yayasan Bagong Kussudiardja, ditampilkan sebuah pementasan teater dengan judul Lurung Kala Bendu, yang dibawakan oleh Teater Ruang.
Pementasan yang dilangsungkan di Padepokan Bagong Kussudiardja tersebut, yang dimulai sekitar pukul 20:00 WIB, mencoba menceritakan mengenai bagaimana perjuangan orang-orang kecil dalam menghadapi
Jaman Kala Bendu, seperti yang pernah diramalkan oleh seorang seniman dan budayawan Jawa masa
lalu, Ronggowarsito.
Dalam menghadapi jaman yang konon adalah jaman e jaman edan, yen ra edan ora keduman inilah para orang-orang kecil tersebut berusaha untuk tetap eling lan waspada, walaupun kadangkala usaha tersebut tidak begitu berhasil diterapkan, karena
keburu tergilas jaman dan keadaan.
Dalam pementasannya, kelompok teater yang berasal Surakarta ini berhasil melakukan usaha eksplorasi sosial dalam kegiatan ber-teater-nya.
Tidak hanya dengan menggunakan bahasa Jawa dalam hampir seluruh pementasannya,
mengusung perangkat gamelan untuk latar belakang musik, serta membawa ke panggung
sebuah becak khas Solo demi mengentalkan suasana kota Solo yang diangkat sebagai
latar belakang lokasi cerita.
Namun juga dengan menampilkan masyarakat umum dengan berbagai latar belakang
sosialnya sebagai para pemain dalam pementasan kali ini. Ada yang sehari-hari
bekerja sebagai penjual sate ayam, penjual sayur mayur, penjaga malam merangkap
tukang parkir, sopir, sopir becak merangkap buruh serabutan, penjual jagung dan
sawut, ibu rumah tangga, hingga mahasiswa, yang kesemuanya itu dapat dikatakan
sedikit sekali memiliki latar belakang akademis atau pendidikan yang memiliki
intensitas tinggi di bidang teater.
Walaupun demikian, kemurnian dari para pemain ini dapat muncul dengan maksimal
karena tidak dipenuhi oleh teori-teori dan kaidah-kaidah drama yang yang kadang
kala membelenggu seorang pemain teater. Akibatnya adalah, apa yang muncul dari
pementasan tersebut adalah, nuansa kejujuran yang tidak dibuat-buat dari para
pemainnya.
Mungkin ada beberapa hal yang sedikit "lain" sehubungan dengan tidak ada latar
belakang ke-teater-an yang dimiliki para pemainnya, terutama yang amat terasa
adalah pengucapan dan artikulasi suara dari beberapa pemain yang kadang kala kurang
dapat terdengar dengan sempurna oleh para penonton.
Akan tetapi, alih-alih menjadi penghambat, kondisi ini malah semakin membuat
para pemain itu semakin membumi, sehingga para penonton tidak melihat --misalnya--
seseorang yang dipanggung itu benar-benar tukang becak, bukan sekedar seorang
aktor yang sedang berperan sebagai tukang becak.
Kondisi ini yang sangat jarang dapat diperoleh dari seorang aktor yang telah
terlebih dahulu memiliki latar belakang ilmu-ilmu dan kaidah-kaidah drama secara
formal.
Setelah pikiran dan perasaan penonton diaduk-aduk, dari rasa geli, marah, prihatin,
dan sedih, akhirnya pementasan teater yang disutradarai oleh Helmy Prasetyo, dan berada di bawah pimpinan Joko "Bibit" Santosa ini, berakhir sekitar pukul 22:00 WIB.
Benar-benar tidak sia-sia perjuangan para penonton yang datang ke cara itu, yang
tidak memerdulikan hujan yang mengguyur kota Yogyakarta semenjak sore hari hingga larut malam. Karena telah mendapatkan sebuah suguhan
teater yang lain dibandingkan pementasan-pementasan teater yang pernah ada sebelumnya.



Kirim Komentar