Fashion Dance & Cultural Gathering "Adeging Nagari Ngayogyakarta: Eksplorasi Kultural" digelar untuk yang pertama kalinya pada Rabu (22/10) lalu. Sayang, acara peragaan busana yang dipadukan dengan tari-tarian dan yang merupakan salah satu rangkaian acara HUT kota Jogja ke-252 itu tak bisa dinikmati seluruh masyarakat Jogja karena tamu yang diundang terbatas.
Sebagai upaya untuk memberikan penghormatan kepada Sultan Hamengku Buwono I sebagai pendiri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pencipta karya - karya adiluhung, dan pelestari busana Mataram, 9 desainer handal Yogyakarta mengambil Batik sebagai bahan untuk mengeksplorasi karya-karya mereka. Para desainer itu antara lain: Ninik Darmawan, Ari Sudewo dan Manik Puspito yang mengusung tema Taman Sari (Fragment Garden), Dandy T. Hidayat, Lia Mustafa, Goeth Poespo & Sany Poespo yang mengusung tema Keputren, Tomy Tri Wahyudi. SE, Afif Syakur dan Nita Azhar yang mengusung tema Kedhaton.
Tak mau kalah dengan para model, para tamu undangan yang hadir pun kebanyakan memakai busana yang stylish. Malam yang dingin itu menjadi meriah dengan kehadiran tamu undangan dari Korea, Malaysia, dan Jepang yang besoknya akan tampil di acara Jogja Java Carnival 2008. Malam di Benteng Vredeburg yang biasanya sepi, kini menjadi malam yang gemilang walau tanpa taburan bintang di langit.
Acara malam itu digelar di tengah-tengah lapangan Benteng Vredeburg yang hanya beratapkan langit. Mendung yang mulai menghitam tak membuat hadirin khawatir. Gelak tawa sekumpulan orang masih membahana, dan yang lainnya masih sibuk mengantri di sebuah meja panjang yang menyajikan makanan yang mengundang selera.
"Kita memang sengaja menyelenggarakannya di luar ruangan, karena ingin menyatu dengan alam, Kita sudah berdoa dan berusaha agar acara hari ini bisa berjalan dengan lancar dan hujan tidak turun," ungkap Nunuk Parwati, Koordinator Media Centre HUT Jogja.
Lampu-lampu panggung mulai dinyalakan satu persatu. Warna warninya indah memancar menambah keeksotikan si malam. Dibalut kebaya hitam, dan kemeja batik yang memesona, kedua pembawa acara Fashion Dance mengundang para tamu undangan untuk segera mengisi kursi-kursi yang telah disediakan.
Fashion Dance dibuka dengan sebuah tarian singkat yang dibawakan oleh seorang pria gagah. Tarian ini menggambarkan Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai orang yang menginspirasi tema Fashion Dance malam itu. Setelah pria gagah itu masuk kembali ke dalam panggung, wanita-wanita cantik hadir dengan balutan batik yang elegant seakan seperti bintang yang menghias langit dari bawah.
Sebagai upaya untuk memberikan penghormatan kepada Sultan Hamengku Buwono I sebagai pendiri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, pencipta karya - karya adiluhung, dan pelestari busana Mataram, 9 desainer handal Yogyakarta mengambil Batik sebagai bahan untuk mengeksplorasi karya-karya mereka. Para desainer itu antara lain: Ninik Darmawan, Ari Sudewo dan Manik Puspito yang mengusung tema Taman Sari (Fragment Garden), Dandy T. Hidayat, Lia Mustafa, Goeth Poespo & Sany Poespo yang mengusung tema Keputren, Tomy Tri Wahyudi. SE, Afif Syakur dan Nita Azhar yang mengusung tema Kedhaton.
Tak mau kalah dengan para model, para tamu undangan yang hadir pun kebanyakan memakai busana yang stylish. Malam yang dingin itu menjadi meriah dengan kehadiran tamu undangan dari Korea, Malaysia, dan Jepang yang besoknya akan tampil di acara Jogja Java Carnival 2008. Malam di Benteng Vredeburg yang biasanya sepi, kini menjadi malam yang gemilang walau tanpa taburan bintang di langit.
Acara malam itu digelar di tengah-tengah lapangan Benteng Vredeburg yang hanya beratapkan langit. Mendung yang mulai menghitam tak membuat hadirin khawatir. Gelak tawa sekumpulan orang masih membahana, dan yang lainnya masih sibuk mengantri di sebuah meja panjang yang menyajikan makanan yang mengundang selera.
"Kita memang sengaja menyelenggarakannya di luar ruangan, karena ingin menyatu dengan alam, Kita sudah berdoa dan berusaha agar acara hari ini bisa berjalan dengan lancar dan hujan tidak turun," ungkap Nunuk Parwati, Koordinator Media Centre HUT Jogja.
Lampu-lampu panggung mulai dinyalakan satu persatu. Warna warninya indah memancar menambah keeksotikan si malam. Dibalut kebaya hitam, dan kemeja batik yang memesona, kedua pembawa acara Fashion Dance mengundang para tamu undangan untuk segera mengisi kursi-kursi yang telah disediakan.
Fashion Dance dibuka dengan sebuah tarian singkat yang dibawakan oleh seorang pria gagah. Tarian ini menggambarkan Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai orang yang menginspirasi tema Fashion Dance malam itu. Setelah pria gagah itu masuk kembali ke dalam panggung, wanita-wanita cantik hadir dengan balutan batik yang elegant seakan seperti bintang yang menghias langit dari bawah.



Kirim Komentar