Berdasarkan hasil analisis data pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, status aktivitas Gunung Merapi masih dinyatakan AWAS, terutama untuk sektor Gendol sampai dengan 8 KM dari puncak Merapi. Aktivitas Gunung Merapi masih tetap dalam status AWAS karena masih terdapat potensi terjadinya awan panas akibat aktivitas magmatis di permukaan atau puncak.
Berdasarkan pengamatan visual tanggal 2 Juli 2006, keadaan cuaca puncak pada pagi hari cerah, siang hingga malam tertutup kabut. Asap solfatara berwarna putih tebal dengan tekanan lemah, tinggi asap 400 m teramati dari Pos Babadan pada pukul 06.30 WIB. Dari pengamatan Deles teramati terjadi 31 kali guguran lava menuju hulu Kali Gendol dengan jarak luncur maksimum 1,5 KM dan 2 kali awan panas menuju hulu Kali Gendol dengan jarak luncur maksimum 2 KM. Antara pukul 00.00 s.d. 24.00 WIB, tercatat gempa MP 3 kali, gempa guguran 202 kali, awan panas 15 kali dan gempa tektonik 14 kali, sedangkan gempa vulkanik tidak terjadi.
Sedangkan pada pengamatan visual tanggal 3 Juli 2006 pukul 00.00 s.d. 18.00 WIB, keadaan cuaca pada pagi hari cerah. Asap solfatara berwarna putih tipis dengan tekanan lemah, tinggi asap 250 m, teramati dari Pos Babadan pada pukul 05.30 WIB. Dari Pos Kaliurang teramati 8 kali guguran lava menuju hulu Kali Krasak dengan jarak luncur 2 KM dan 22 kali menuju hulu Kali Gendol dengan jarak luncur 1 KM. Awan panas tidak teramati dari semua pos pengamatan.
Hasil rekaman seismograf tercatat gempa guguran 181 kali, gempa tektonik 7 kali, awan panas 1 kali, dan multi phase 2 kali, sedangkan gempa vulkanik dangkal (VTB) tidak terjadi. Secara umum aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih fluktuatif dalam tren menurun. Guguran lava pijar dan awan panas masih terjadi, namun frekuensi kejadian dan jarak luncurnya relatif menurun.
Sehubungan dengan status AWAS direkomendasikan: agar wilayah di sepanjang alur Kali Krasak / Bebeng, Bedog, Boyong, dan Gendol dalam radius 8 KM dari puncak Gunung Merapi dalam jarak 300 m dari tebing alur sungai tersebut di atas tetap dikosongkan karena masih berpotensi terancam awan panas; agar menghentikan semua kegiatan masyarakat (penambangan pasir, bertani, berkebun, beternak, pendakian ke puncak, dan sebagainya), di dalam dan di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi dalam radius 8 KM.



Kirim Komentar