Status aktivitas Gunung Merapi masih dinyatakan AWAS oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, khusus untuk sektor Gendol sampai dengan 8 KM dari puncak Merapi. Selain itu, BPPTK juga menyarankan kepada masyarakat lereng Merapi, agar wilayah di sepanjang Kali Krasak, Bebeng, Boyong, dan Gendol dalam radius 8 KM dari puncak dan jarak 300 meter dari tebing sungai, tetap dikosongkan.
Pengamatan visual BPPTK (21/06) menunjukkan bahwa cuaca di puncak gunung dari pagi hingga sore hari tertutup kabut. Kejadian guguran lava pijar dan awan panas hanya dapat diketahui dari terdengarnya suara guguran dan kenampakan sinar api. Namun jarak luncur dan arah guguran tidak dapat diketahui karena pengamatan terhalang kabut.
Dari Pos Jrakah dan Ngepos dilaporkan terjadinya hujan gerimis sekitar pukul 16.30 hingga 17.40 WIB.
Hasil rekaman seismograf tercatat gempa MP 65 kali, gempa guguran 256 kali, awan panas 15 kali dan gempa tektonik 4 kali. Sedangkan gempa vulkanik, baik vulkanik dalam (VTA) maupun vulkanik dangkal (VTB) tidak terjadi.
Untuk pengamatan Kamis (22/06) pagi (00.00-06.00 WIB) ini, keadaan cuaca puncak pada dini hari tertutup kabut. Namun pada pagi hari puncak sedikit cerah. Asap solfatara berwarna putih tebal dengan tekanan sedang, tinggi asap 700 meter teramati dari Pos Babadan pada pukul 05.40 WIB.
Hasil rekaman seismograf tercatat gempa MP 8 kali, gempa guguran 84 kali, awan panas 5 kali dan gempa tektonik 3 kali, sedangkan gempa vulkanik tidak terjadi.
Secara umum, aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih tinggi seperti ditunjukkan oleh data kegempaan. Data kegempaan didominasi oleh gempa MP, guguran lava pijar dan awan panas. Jumlah awan panas relatif menurun, sedangkan guguran lava pijar masih berfluktuasi.



Kirim Komentar