Di tengah hiruk pikuk Gunung Merapi dan laku bisu mbah Maridjan, kelompok sukarelawan kemanusiaan yang dikenal dengan sebutan Palang Merah Indonesia (PMI) telah bergerak tenang membantu setiap pengungsi dan operasional barak pengungsian setiap harinya. Dari memasak di barak hingga komunikasi dengan pihak BPPTK, kawan-kawan PMI bekerja tanpa kenal lelah, walaupun tak jarang kewajiban mereka dibatasi.
"Kami setiap pukul 10.00 WIB selalu berkomunikasi dengan pihak BPPTK via radio komunikasi 14.7770. Channel tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat yang punya fasilitas radio panggil," ungkap Warsinim, Ketua PMI Cabang Sleman Ranting Pakem, di ruangan kantornya yang kecil itu.
Berdasarkan protab Kabupaten Sleman, PMI menjalankan tugas utama sebagai tim evakuasi penduduk dari kawasan rawan bencana Gunung Merapi. Selain itu, PMI juga menerima dan menyalurkan bantuan makanan, minuman, obat-obatan, dan pakaian kepada para pengungsi atau korban yang membutuhkan. Koordinasi dari PMI dipastikan berjalan lancar karena mereka langsung berhubungan dengan pemerintahan desa hingga tingkat RT/RW. Sukarelawan dari organisasi atau institusi juga dapat dikoordinasikan oleh PMI.
"Tapi tugas kami itu sekarang tidak jelas, mas. Girik pun kami tidak ada. Bahkan kami juga tidak boleh masuk ke daerah rawan bencana untuk membantu proses evakuasi," keluh Warsimin kepada GudegNet.
Hingga hari ini, tim PMI jarang dilibatkan dalam berbagai koordinasi penerimaan dan penyaluran bantuan tersebut. Maksimal, mereka "hanya" bertugas memasak di barak-barak pengungsian. Padahal jika dilibatkan secara optimal, PMI dapat mengurangi terjadinya berbagai kekurangan yang terjadi di lapangan.
Kekuatan PMI di wilayah Kabupaten Sleman meliputi 212 petugas yang terdiri dari Palang Merah Remaja (PMR) sejumlah 80 orang, Satgana 60 orang, dan sisanya dari KSR Cakra/PMI.



Kirim Komentar