Meski baru sekitar enam hari dapur magma merapi benar-benar mengepulkan asap,
jauh hari sebelumnya dapur pengungsian telah mengepul untuk melayani pengungsi
yang menempati barak pengungsian. Dipastikan, selama dapur Merapi tetap mengeluarkan
kepulan, selama itu pula dapur pengungsi akan tetap mengepul.
Menurut pengamatan GudegNet hingga hari ini, Kamis (18/05), suasana jenuh dan
lelah tidak hanya dirasakan oleh pengungsi, namun juga oleh petugas dan relawan
di barak pengungsian. Telah lebih dari enam belas hari mereka habiskan waktu untuk
mengurusi pengungsi yang jumlahnya ribuan.
Menurut satu petugas di barak pengungsian Purwobinganun yang tidak mau disebut
namanya, rasa jenuh, bosan, lelah hingga kurang tidur mereka rasakan hingga detik
ini. Sebagai subyek yang menangani pengungsi, mereka merasa bahwa mereka berkewajiban
untuk mengurus pengungsi namun seolah tidak mempunyai hak yang selayaknya mereka
dapatkan.
"Kita sudah jenuh dan lelah, tiap hari kurang tidur. Pemerintah hanya memperhatikan
obyek (pengungsi -red), namun kami subyeknya (para petugas-red) tidak pernah diperhatikan.
Kami mengurusi mereka yang sakit, tapi gimana kalo kami sendiri sakit? siapa yang
mengurusi kami, trus siapa yang mengurusi mereka (pengungsi -red)?," keluhnya
ketika berbincang dengan GudegNet.
Mungkin bukan penghargaan dan bayaran yang mereka inginkan, namun perhatian dari
pemerintah yang tidak melulu hanya kepada pengungsi, namun juga kepada para petugas
khususnya yang berada di lapangan.



Kirim Komentar