Ketika awan panas Senin (15/05) pagi ini meluncur melalui lereng Gunung Merapi,
tak nampak kepanikan atau kehebohan dari para pengungsi yang berada di barak pengungsian
Purwobinangun. Justru rasa jenuh dan bosan yang melanda sebagian besar pengungsi
yang berasal dari desa Turgo itu.
Kebanyakan pengungsi tetap menengok keadaan rumah, ternak, dan ladang yang dimiliki. Mereka diangkut dengan truk yang dalam satu hari dapat kembali ke desa mereka hingga 3- kali. Pagi hari atau siang hari biasanya kembali ke atas untuk membantu keluarga laki-laki yang tetap berjaga di rumah. Mereka "ngarit" mencari rumput untuk pakan ternak mereka.
Selama ini, tidak banyak kegiatan yang dilakukan di barak pengungsian Purwobinangun. Berdasarkan pengamatan wartawan GudegNet, Joko Widiyarso, kejenuhan diatasi oleh orang-orang tua dengan "metani" atau mencari kutu rambut. Anak-anak kecil cukup dengan bermain bola untuk menghilangkan kebosanan.
Data dari kelurahan setempat menyebutkan bahwa total pengungsi di Purwobinangun ada 243 perempuan dan 71 laki-laki. Lansia berjumlah 40, dewasa 93, anak-anak 66, bayi 7, dan ibu hamil 3 orang. Dilaporkan pula ada satu orang perempuan lanjut usia yang dibawa ke Panti Nugroho Pakem karena kekurangan darah.
Akan tetapi, secara keseluruhan, para pengungsi tidak kekurangan logistik dari pemerintahan Propinsi DIY dan distribusi air dari PU cukup lancar.



Kirim Komentar