Gempa bumi berdampak parah terhadap sektor-sektor dalam perekonomian. Kerusakan
dan kerugian pada sektor produktif diperkirakan sebesar 30 % dari jumlah seluruh
kerugian karena gempa. Banyak perusahaan, kebanyakan usaha kecil dan menengah,
toko, dan beberapa tempat berdagang rusak. Pedagang tidak mampu lagi membangun
tempat usahanya, apalagi mengembangkan usahanya yang ikut hancur karena gempa.
Maka dari itu, pemberian likuiditas kepada UKM yang terkena gempa akan mengurangi
aliran tidak langsung kerugian karena bencana, dengan membantu menghidupkan kembali
kegiatan perdagangan.
Bank Indonesia beserta Badan Musyawarah Perbankan DIY dan Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia merasa terpanggil untuk membangkitkan kembali sektor usaha kecil dan menengah yang lumpuh sejak gempa melanda Yogyakarta. Pada hari Kamis tanggal 3 Agustus 2006, Bank Indonesia secara khusus mengadakan Bazar Perbankan Nasional Bagi UKM Yogyakarta. Dengan mengusung tema "Setitik Bhakti Bagi Kebangkitan UMKM Yogyakarta", event ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi UKM Yogyakarta yang terkena musibah gempa Jogja 27 Mei 2006 lalu. Melalui event ini, pihak keuangan & perbankan dan instansi terkait di Yogyakarta diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi sebagian masyarakat yang membutuhkan kemudahan dalam hal pembiayaan maupun bagi yang ingin membangun kembali usahanya pasca gempa.
Bantuan dan dukungan keuangan yang akan diberikan kepada pihak UKM meliputi:
penjadwalan ulang utang di Bank, pinjaman baru untuk modal kerja dan tempat sementara
untuk bekerja kembali.
Diikuti oleh seluruh bank pemerintah dan swasta di Yogyakarta yang berjumlah
sekitar 25 bank, pameran yang juga menampilkan beberapa UKM binaan bank-bank di
Yogyakarta ini mendapatkan sambutan yang meriah dari masyarakat Jogja khususnya
bagi pihak UKM yang berkepentingan. UKM yang mengikuti pameran diperkenankan menampilkan
produk-produk andalan mereka sekaligus memperdagangkannya kepada pengujung pameran.
"Semoga dengan pameran ini usaha kami dapat hidup kembali, syukur-syukur dapat berkembang," ungkap salah satu peserta bazar ketika dijumpai GudegNet di stand UKM-nya.
Di Yogyakarta, diperkirakan sekitar 30.000 UKM langsung terkena dampak bencana yang menghilangkan mata pencaharian sekitar 650.000 pekerja. Sekitar 2,5 juta orang yang menggantungkan diri pada usaha tersebut dipastikan juga akan kehilangan penghasilan baik sementara maupun permanen.
Meski sektor UKM di Yogyakarta khususnya di Bantul merasakan dampak yang paling
berat akibat gempa, kepedulian pihak perbankan Yogyakarta patut diacungi jempol
dengan mengangkat kembali sektor ini melalui bantuan dan dukungan yang mereka
kucurkan. Aksi ini diharapkan menjadi awal bagi kebangkitan UKM Yogyakarta dari
keterpurukan dan Yogyakarta sendiri secara umum dari musibah gempa.



Kirim Komentar