Hari itu, Sabtu tanggal 27 Mei 2006, seperti biasanya Ngadiono (37 thn) sedang
membantu istrinya di dapur warung makannya setelah tiga puluh menit sebelumnya
mengantar istrinya belanja ke pasar. Karena masih terlalu pagi, sekitar pukul
05.50, bapak dua anak ini belum memandikan anak-anaknya sebelum pergi ke sekolah.
Baru hendak membangunkan anak-anaknya, bunyi gemuruh disertai goncangan keras
diiringin dengan barang-barang pecah belah yang berhamburan di kamarnya ternyata
lebih dulu membangunkan anak-anaknya. Gempa besar menggoyang rumahnya. Dengan
cepat dan sigap, diraihnya Ferdi, anak bungsunya yang berusia 5 tahun ke pelukannya
serta meraih Andri, anak pertamanya yang berlarian keluar kamar sambil memanggil-manggil
namanya. Dengan langkah gontai, ia memanggil istrinya yang ternyata malah menyusul
ke kamar. Dalam hitungan detik, keempat-nya telah berhasil berada di luar rumah
dan masih sempat menyaksikan rumahnya yang masih bergetar.
Setelah gempa berhenti, yang ada di pikirannya hanyalah mencari tahu kondisi rumahnya dan memastikan bahwa rumahnya aman dan masih layak untuk dihuni. Di daerahanya, Ngentak Sleman, kerusakan memang relatif kecil. Tak ada rumah yang benar-benar roboh atau bangunan yang hancur total. Hanya beberapa pagar dan tembok rumah retak.
Beberapa saat kemudian ia menyempatkan diri untuk pergi ke tempat kerjanya di Bantul. Dalam perjalanan menuju pabrik sepatu tempat ia bekerja, hanya pemandangan mengenaskan yang ia temui. Rumah hancur, orang terluka dan menangis dll. Ia bahkan tidak berani membayangkan apa yang terjadi dengan pabrik tempat ia bekerja meski ketika semakin dekat dengan daerah tempatnya bekerja, semakin parah kerusakan yang ia temukan.
Ternyata apa yang dilihatnya di tempat kerjanya memang seperti yang ia lihat
ketika dalam perjalanan menuju tempat kerjanya bahkan lebih parah. Pabrik sepatu
kulit tempat ia bekerja tak lagi layak dikatakan sebuah bangunan. Sepatu, sandal,
tas dan produk kulit lain terlihat tertimbun di bawah reruntuhan pabriknya. Beberapa
merupakan hasil karyanya.
Merasa tak perlu lagi berlama-lama di tempat kerjanya yang hancur, pria bertubuh gempal ini pulang ke rumahnya. Disampaikannya kepada istrinya apa yang baru saja ia saksikan. Dengan wajah pasrah, sang istri pun mengelus pundak suaminya dan berujar, "Wis pak, sik penting dewe sekeluarga selamet."
Ngadiono adalah salah satu dari puluhan ribu orang yang dipastikan kehilangan pekerjaan setelah musibah gempa yang terjadi. Ia tidak tahu lagi harus mencari pekerjaan apa dan di mana. Yang ia tahu, kondisi Jogja pasca gempa akan semakin menambah sulit semua orang untuk mencari pekerjaan. Hingga lebih dari seratus hari pasca gempa, Ngadiono belum juga mendapatkan pekerjaan yang seperti ia harapakan, paling tidak pekerjaan seperti yang ia lakoni dulu sebagai karyawan pabrik.
"Saya tidak tahu lagi harus cari kerja di mana lagi. Saya hanya bisa pasrah," keluhnya kepada Gudegnet di rumahnya yang masih terlihat beberapa keretakan di sana-sini.
Perkiraan awal menunjukkan bahwa berkurangnya kegiatan ekonomi akan menyebabkan
hilangnya sekitar 130.000 ribu lapangan kerja. Hal ini mewakili sekitar 4% dari
total angkatan kerja sebelum gempa bumi didaerah yang terkena gempa. Sebagai akibatnya,
angka pengangguran diperkirakan meningkat dari 7% menjadi sekitar 11% (Tabel 33).44
Sektor jasa terkena dampak paling parah dan menyebabkan sebagian besar pekerjanya
kehilangan lapangan kerja (55%). Sektor jasa meliputi pekerja di bidang perdagangan,baik
wiraswasta atau mewakili usaha kecil dan menengah. Hampir 70.000 orang kehilangan
sumber pendapatan utama mereka. Sektor pertanian yang menyerap lebih dari 45%
tenaga kerja akan kehilangan 1,1% (17.000 pekerjaan) sebagai akibat gempa bumi.
Kerusakan sawah dan tanman pertanian relatif sedikit. sejumlah 730.000 orang bekerja
diberbagai industri (terdiri dari konstruksi, pabrik, utilitas, dan pertambangan)
di daerah yang terkena dampak. Di kabupaten Bantul sendiri hampir 30% pekerja
yang bekerja diperusahaan perusahaan tersebut merupakan usaha kecil dan juga berfungsi
sebagai rumah, maka kerugian di sub sektor ini diperkirakan merupakan bagian besar
dari kerugian yang disebabkan oleh hilangnya lapangan kerja di sektor manufaktur.



Kirim Komentar