Sabtu (27/05) pagi itu, di Bandara Internasional Adisucipto, dua orang calon
Tenaga Kerja Indonesia dari Surabaya yang hendak menuju Singapura, Ida dan Arif
mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa yang baru saja terjadi di Jogja. Mereka
menghubungi salah satu maskapai penerbangan untuk mengurus tiket namun tidak ada
jawaban. Maka mereka langsung menuju bandara lewat jalur darat dan baru tahu apa
yang terjadi ketika sampai di bandara.
"Saya tidak tahu kalo bandara tutup karena gempa, jadi saya nanti akan ke Semarang dan ke Singapura lewat Semarang saja mas," ungkapnya kepada GudegNet ketika di temui di sudut ruang bagian depan bandara.
Kerusakan cukup besar akibat gempa pagi itu dialami pihak pengelola bandara. Landasan bandara Adisucipto mengalami keretakan hingga empat titik yang tidak memungkinkan dibukanya penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan. Gempa bumi mengakibatkan keretakan melintang pada landas pacu di tiga lokasi dan keretakan memanjang di satu lokasi. Keretakan terjadi selebar 3 cm dan umumnya sedalam 5 cm. Perbaikan kerusakan tersebut ditafsir membutuhkan biaya sebesar Rp 13,8 miliar. Kerusakan pada keberangkatan domestik diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 5,4 miliar.
Beberapa kerusakan kecil juga terjadi sehingga harus berhenti beroperasi selama dua hari dan mengalihkan semua jalur penerbangan dari dan menuju Yogyakarta ke Bandara Adisumarmo Solo. Sebagian gedung terutama terminal keberangkatan mengalami kerusakan hingga merenggut korban jiwa dua orang, luka ringan sembilan orang dan luka berat satu orang.
Akan tetapi, berdasarkan laporan awal tim penilaian gabungan Bappenas dan Pemda DIY & Jateng, gempa bumi 27 Mei 2006 di DIY dan Jateng mengakibatkan kerusakan yang relatif kecil pada bidang transportasi, seperti jaringan jalan umum, infrastruktur kereta api, bandara, dan instalasi telpon serta kantor pos. Terjadi kerusakan yang luas namun ringan pada jalan dan jembatan di daerah-daerah yang dilanda gempa bumi.
Jumlah total biaya kerusakan diperkirakan mencapai Rp 45 miliar berdasarkan data kerusakan jalan dari DPU Provinsi DIY. Beberapa kerusakan jalan mencakup retakan melintang dan memanjang. Kerusakan jembatan mencapai 60% dari jumlah total biaya, jalan nasional 16% dari jumlah total biaya, sementara jalan provinsi dan kabupaten 84%. Dua per tiga kerusakan jaringan subnasional terjadi di Bantul dan Sleman.
Pada jalur kereta api utama sebelah selatan mengalami kerusakan kecil pada rel,
bangunan stasiun, tanda-tanda dan telekomunikasi serta bangunan di antara delanggu
(sebelah timur Yogyakarta). Perkiraan awal biaya kerusakan telah dibuat oleh Daerah
Operasi IV (DAOP VI) KAI dengan berkonsultasi pada Departemen Perhubungan. Penguatan
bantalan rel dan pelurusan kembali rel di jalur sepanjang 800 meter diperkirakan
akan memakan biaya sebesar Rp 2,8 miliar. Perbaikan atau penggantian bangunan
yang rusak dan bangunan lainnya seta pagar diperkirakan memakan biaya sekitar
Rp 5,9 miliar.



Kirim Komentar