Sosial Ekonomi

Rumah Gedhek Darurat ala Merti Jogja

Oleh : Donum Theo / Senin, 00 0000 00:00
Rumah Gedhek Darurat ala Merti Jogja

Kebutuhan tempat tinggal pasca gempa bumi 27 Mei 2006 di DIY dan Jateng menjadi hal yang pelik bersamaan dengan kebutuhan sandang dan pangan. Pasalnya, rumah penduduk di sebagian wilayah yang membujur antara Bantul hingga Klaten tersebut telah hancur rata dengan tanah. Terpaksa tinggal di rumah saudara atau mau tak mau membuat tenda darurat dari bahan seadanya.

Membangun kembali tempat tinggal yang rusak akan menjadi prioritas utama dalam utama rekonstruksi DIY dan Jawa Tengah. Kerugian dan kerusakan di sektor perumahan mencapai Rp 15,3 triliun atau lebih dari setengah dari jumlah total. Diperkirakan, 157.000 rumah hancur dan 202.000 lainnya rusak. Antara 600.000 hingga 1.000.000 orang telah kehilangan tempat tinggal. Skala kerusakan perumahan akibat gempa lebih besar dari pada di Aceh. Hal ini dikarenakan padatnya populasi pada daerah yang terkena gempa serta standar konstruksi bangunan yang rendah.

Hingga tulisan ini dibuat, DIY dan Jateng masih dalam tahap rekonstruksi. Hampir di setiap sudut kota dan daerah di Yogyakarta masih terlihat reruntuhan bangunan yang masih menumpuk di beberapa bahu jalan raya. Namun beberapa warga telah kembali dapat membangun kembali rumahnya yang rusak meski dengan susah payah. Dalam konteks darurat ini pulalah Kelompok Kerja (Pokja) Merti Jogja yang berkedudukan di Kompleks Kepatihan Yogyakarta berusaha membangun rumah darurat dengan bahan bambu dan gedhek. Gedhek adalah sayatan kulit bambu yang dianyam menjadi lembaran yang berfungsi sebagai pengganti tembok sementara. Pokja Merti Jogja pun akhirnya memfasilitasi pembangunan rumah gedhek sejumlah 480 unit yang dibagi dalam dua tahap. Tahap I telah berhasil dibangun sebanyak 240 unit rumah gedhek di Kecamatan Prambanan, Berbah, Imogiri, dan Sewon. Tahap II akan dilaksanakan dengan rencana pembangunan sebanyak 240 unit.

Bantuan yang diberikan berupa bahan bangunan, yaitu gedhek 10 lembar, bambu 10 batang, deklit 1 buah, semen 1 sak, paku usuk 1 kg, paku reng 1 kg, kawat bendrat 1kg kepada 1 Kepala Keluarga (KK). Jadi total ada 240 KK yg menerima bantuan rumah gedhek tahap I. Pengangkutan dan pengiriman bahan serta pengerjaan rumah gedhek dikerjakan oleh masyarakat penerima itu sendiri secara bergotong royong. Dalam pengerjaan rumah gedeg ini sangat menyesuaikan dengan kondisi dan situasi di masing-masing KK tersebut.

Apakah tidak panas tinggal di rumah gedhek seperti itu karena tidak ada jendela? Berdasarkan pengakuan masyarakat yang tinggal di rumah gedhek tersebut memang panas dan gerah, terutama pada pukul 11.00 - 14.00 dan mereka memilih untuk keluar dari rumah karena tidak tahan dengan udara panasnya. Hal ini terutama sekali disebabkan oleh atap yang terbuat dari bahan terpal atau deklit. Jendela sebagai ventilasi udara sebetulnya tidak begitu diperlukan karena bahan dinding terbuat dari gedhek, oleh karena itu banyak sekali "lubang-lubang udara" di mana udara dapat keluar-masuk dengan bebas. Bahkan di malam hari, udara menjadi terasa sangat dingin karena udara yang keluar-masuk dengan bebas. Untuk mengatasi hal tersebut, di bagian dalam rumah gedhek dilapisi dengan kertas koran, kain bekas spanduk, terpal atau deklit, dan lain-lain.

Bagi masyarakat yang sudah merasa tidak takut lagi dengan gempa-gempa susulan, maka atap rumah gedheknya menggunakan bahan genteng lokal sisa-sisa rumah yang roboh. Genteng lokal ini sangat tipis dan kalau jatuh gampang pecah. Apabila sudah menggunakan atap dari genteng lokal seperti itu, udara di dalam rumah tersebut tidak lagi terasa panas. Kata orang-orang yg bertempat tinggal di rumah gedeg dengan atap genteng lokal, "Terasa sejuk di kala siang hari sekitar jam 12.00 - 13.00".

Pembangunan rumah gedhek tersebut menjadi "entry point" bagi Pokja Merti Jogja untuk pengorganisasian masyarakat, khususnya di bidang ekonomi. Korban gempa tidak perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk membangun rumah tinggal sehingga mereka dapat membagi waktu dan tenaga untuk memulihkan kembali perekonomian keluarga. Di salah satu dusun penerima rumah gedhek, yaitu di Dusun Giriloyo dan Dusun Karangkulon Desa Wukirsari, Imogiri, masyarakatnya sebagian besar bekerja sebagai buruh batik terutama kaum perempuan. Juga di wilayah sentra industri gerabah Kasongan Bantul. Untuk sementara waktu aktivitas produksi mereka memang terhenti, namun diharapkan hal tersebut tidak berlangsung lama dengan adanya bantuan rumah gedhek tersebut.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini