Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, Gempa Jogja telah menghancurkan lebih
dari 350.000 rumah penduduk dan membuat lebih dari 1,5 juta orang kehilangan tempat
tinggal.
Pemerintah Indonesia menanggapi bencana itu dalam jangka waktu beberapa jam kemudian dan mengalokasikan Rp 5 triliun dan bantuan kemanusiaan bagi korban gempa Jogja dan DIY. Presiden SBY tiba Yogyakarta beberapa jam setelah gempa terjadi dan untuk beberapa saat berpindah kantor di Gedung Agung Yogyakarta sejak tanggal 27 Mei hingga 31 Mei untuk memonitor upaya pengiriman bantuan dan penganggulangan bencana alam.
Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Bakornas) yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla melaksanakan koordinasi awal pengiriman bantuan dan upaya penyelamatan.
Masyarakat Internasional bertindak cepat mengingat banyaknya organisasi Internasiona masih berada di Aceh maupun organisasi yang sebelumnya menangani korban letusan Merapi. Federasi Palang Merah Indonesia, Bulan Sabit Internasional, berbagai organisasi di bawah PBB dan berbagai LSM telah mengumpulkan bantuan berupa kebutuhan pokok, tenaga medis dan penanggulangan bencana.
Salah satu organisasi internasional yang turun menangani korban gempa pada beberapa saat setelah gempa terjadi adalah IOM (International Organization for Migration). Organisasi yang berada di bawah PBB ini sebelumnya masih berada di Aceh dalam kegiatannya turut merekonstruksi Aceh dan Nias pasca Tsunami. Dengan jumlah 14 posko di DIY dan Jateng, IOM mengkonsentrasikan bantuannya pada transportasi, bantuan medis, distribusi bahan non-makanan dan pembangunan rumah-rumah bambu.
Hingga lebih dari 100 hari pasca gempa, IOM masih berada di Jogja dengan berbagai kegiatannya dalam rangka pemulihan Jogja. Direncanakan, IOM akan berada di Jogja hingga akhir tahun 2006.
"Kami telah lebih dari empat bulan berada di Jogja. Rencananya hingga akhir tahun ini," sela Suci, salah seorang staf IOM ketika ditemui GudegNet disela-sela kesibukannya dikantor IOM di jl. Cokroaminoto Yogyakarta.
Program IOM yang hingga kini masih dilaksanakan dengan efektif adalah pembangunan
rumah-rumah bambu bagi warga yang kehilangan tempat tinggal di Gunung Kidul, Sleman,
kota YOgyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah. Bekerjasama dengan arsitek dari
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, IOM kini sedang merapungkan program pembangunan
751 rumah di Bantul yang rencananya akan selesai pada akhir tahun ini. Dalam satu
hari, IOM dapat memproduksi 100 bahan baku rumah dengan mempekerjakan 250 orang
sebagai tukang, ahli, sopir dsb.



Kirim Komentar