Bencana gempa bumi yang terjadi di DIY dan Jateng, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB, masih menyisakan kisah pilu bagi banyak orang, baik bagi penduduk setempat maupun pendatang baru. Tak luput pula dari nasib malang yang menimpa Izriansyah Noor (26 thn), seorang pemuda dari Manado yang bertandang ke Jogja pada tanggal 26 Mei 2006 sore, bersama dengan tunangannya, Rifka Ahmadani (21 thn), untuk keperluan niaga. Alih-alih berniaga, mereka berdua tertimpa kemalangan; Izriansyah lengan kirinya retak dan sang tunangan meninggal.
Ditemui GudegNet di Pendapa Rumah Dinas Bupati Bantul (27/06), Izriansyah menuturkan
kisah perjalanannya di Jogja bersama dengan Rifka. Pada tanggal 26 Mei 2006, mereka
berdua tiba di Terminal Bus Giwangan Yogyakarta dan dijemput oleh seorang kawan
yang sedang menuntut ilmu seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Lukman.
Mereka bertiga segera menuju ke tempat indekos Lukman yang berada di Sewon, dekat
kampus ISI. Lukman dan Rifka turun di Sewon dan berpisah dengan Izriansyah yang
masih harus menuju ke Parangtritis untuk menemui rekannya di daerah pinggiran
pantai tersebut. Namun karena kemalaman, Izriansyah tak mendapatkan kendaraan
untuk menuju ke tempat indekos Lukman sehingga terpaksa ia menginap di Parangtritis.
Sabtu, 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB, gempa bumi mengguncang DIY & Jateng yang membuat beberapa wilayah di kedua propinsi itu luluh lantak, seperti di Bambanglipuro, Bantul dan Gantiwarno, Klaten. Rumah-rumah rata dengan tanah, korban jiwa tertimbun reruntuhan rumah, dan menyusul kepanikan akan isu tsunami sebagai bencana susulan. Pagi hari itu, hanya sedikit orang yang tahu bahwa gempa bumi berkekuatan 5,9 SK itu telah memporak-porandakan DIY & Jateng. Selebihnya, banyak orang yang merasa telah terjadi kiamat.
Begitu pula yang terjadi dengan Izriansyah yang terpisah dengan tunangannya. Malang tak dapat ditolak, lengan kiri Izriansyah patah dan Rifka ditemukannya dalam keadaan meninggal di RS Panembahan Senopati Bantul (RSUD Bantul) pada tanggal 27 Mei. Selain itu, dalam proses evakuasi, kawannya Lukman, mahasiswa ISI tersebut, ditemukan meninggal oleh warga sekitar indekos di Sewon. Entah apa yang terjadi pada malam sebelumnya, pihak yang bertanggungjawab di indekos tersebut tidak merasa dimintai izin untuk tamu menginap oleh Lukman, apalagi indekos itu khusus laki-laki. Ada kemungkinan Rifka dititipkan di tempat lain karena jenazah Rifka tidak ditemukan di lokasi evakuasi indekos Lukman.
Izriansyah, setelah yakin bahwa Rifka telah meninggal, berinisiatif untuk memberitahukan keluarga Rifka yang berada di Jl. Teling Atas, Lingkungan 2, Manado dengan jalan kembali ke Manado pada tanggal 29 Mei dari kota Surabaya. Izriansyah pun mengambil kalung dengan liontin yang tergantung di leher Rifka. Saat ditemukannya, Rifka sedang mengenakan kaos berwarna kuning, celana jeans warna hitam, rambutnya hitam lurus panjang sepunggung, kulitnya sawo matang. Ia pun mengaku, kepada GudegNet, telah menitipkan jenazah pada pihak RS Panembangan Senopati Bantul. Namun entah apa yang ada dipikirannya, Izriansyah lebih memilih kembali ke Manado dulu daripada mengurus jenazah Rifka.
Izriansyah baru kembali tiba di Bantul pada hari Senin tanggal 19 Juni 2006. Lebih dari tiga minggu setelah bencana gempa, Izriansyah kembali ke Bantul untuk mengurus Surat Kematian dari Rifka Ahmadani. Namun apa dikata, jenazah Rifka tak ditemukannya lagi di rumah sakit tersebut. Pihak rumah sakit pun tak dapat memberikan informasi apapun atas keberadaan jenazah Rifka. Pun berdasarkan data jenazah tak teridentifikasi dari RS Sardjito dan RSUD Bantul, tidak terdapat data korban yang usianya sekitar 21 tahun. Hingga Selasa (27/06) sore kemarin, Izriansyah masih terus mencari keberadaan jenazah Rifka, tunangannya.



Kirim Komentar