Masyarakat perkotaan Yogyakarta kini mulai berbenah diri sembari menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih sisa reruntuhan bangunan dan tembok dengan menggunakan fasilitas alat berat dari pemerintah setempat. Situasi umum yang kini dapat ditemui beberapa terakhir ini adalah aktivitas pembangunan kembali rumah-rumah penduduk yang rusak sebagian, tempat ibadah, gedung sekolah, dan kantor-kantor pemerintahan.
Bantuan pemerintah untuk dana pembangunan mulai digulirkan dengan berbagai macam variasi jumlah serta polemik yang menyertainya. Disebut-sebut, Kabupaten Bantul menjadi pilot project untuk distribusi bantuan biaya hidup berupa uang lauk pauk Rp 90 ribu/jiwa/bulan dan beras 10 kg/jiwa/bulan. Kemudian bantuan pembangunan berupa uang maksimal Rp 10 juta/rumah dengan kategori rusak ringan dan maksimal Rp 30 juta/rumah dengan kategori rusak berat atau rata tanah.
Namun yang lebih menarik adalah prinsip gotong royong yang seyogyanya dapat didengungkan kembali oleh pemerintah setempat sebagai salah satu usaha menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Karena bila hanya dengan uang saja, "gempa" berikutnya dengan mudah dapat muncul ke permukaan sebagai salah satu alasan tidak-meratanya distribusi bantuan atau statistik korban gempa yang tidak akurat. Gempa yang dimaksud adalah gejolak emosi negatif dari masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil atas bantuan pembangunan dari pemerintah.
Untuk saat ini, dimohon bantuan berupa perkakas pembangunan seperti linggis, cangkul, sekop, dan lain sebagainya untuk alat pendukung program bersih-bersih perkotaan. Sementara itu dilaporkan dari Satkorlak PB bahwa permintaan bantuan logistik telah menurun, dan lebih difokuskan pada ketersediaan tenda-tenda.



Kirim Komentar