Jika diamati dari jalan Ipda Tut Harsono, daerah Sapen terlihat normal-normal saja pada tiap rumah di tepi jalan rayanya yang dilintasi jalur kereta api ini. Hanya sebagian kecil yang mengalami kerusakan, itupun hanya kerusakan minor. Masih banyaknya tenda-tenda yang masih tegak berdiri di sepanjang jalan ataupun daerah yang lapang, kesibukan ibu-ibu yang sedang memasak untuk keperluan warga dalam satu tenda, dan posko bantuan yang ada hampir disetiap jarak 10 meter membuat GudegNet singgah ke salah satu tenda yang saat itu masih dipenuhi oleh ibu-ibu dan anak-anak yang sedang tiduran.
Saat menuju tenda yang berdiri di depan salah satu rumah yang masih telihat berdiri kokoh , GudegNet ditemui oleh Pamungkas (38 thn). Dia terlihat duduk-duduk santai dan berbicara dengan keluarganya. Tak satupun anggota keluarganya yang telah berani masuk rumahnya, semua berada di luar rumah dan sebagian lagi di dalam tenda untuk beristirahat.
"Kami dan semua warga sini (sapen-red) belum ada yang berani masuk apalagi tidur di dalam rumah. Mungkin dari bagian luar rumah terlihat aman-aman saja, tapi kalo mas (GudegNet-red) masuk akan tahu sendiri keadaanya," keluh Pamungkas kepada GudegNet pagi tadi.
Setelah GudegNet mencoba masuk ke dalam rumahnya, dari depan pintu utama langsung terlihat bahwa bagian dalam rumah memang tergolong rusak cukup parah pada tiap kolom bangunannya. Keretakan besar rata-rata terjadi pada tiap tembok di rumah tersebut. Jika sekali lagi terjadi guncangan, keluarga ini tidak tahu pasti apa yang akan terjadi.
Sebagai salah satu warga yang tinggal di area lintasan kereta api, Pamungkas menambahkan bukan gempa susulan lagi yang mereka takutkan, namun getaran kereta api yang lebih ditakutkan. Hampir tiap jam mereka merasakan getaran kereta api yang dapat meruntuhkan bangunan rumah mereke. Maka memilih untuk tetap berada di luar rumah hingga saat ini.
Bantuan dari pemerintah dan instansi yang terkait belum dapat mereka rasakan, hanya dari beberapa pihak di luar Jogja yang dulunya pernah bermukim di daerah ini yang memberikan bantuan secara langsung. Bantuan mereka biasanaya dalam bentuk mie instan, selimut dan pakaian bekas. Hingga saat ini warga masih mempertanyakan bantuan yang seharusnya telah mereka dapatkan. aliran listrik telah dapat dinikmati oleh beberapa warga di daerah ini, namun logistik, tenda dan alas tidur masih merupakan kebutuhan utama bagi mereka.



Kirim Komentar