Tindak kriminalitas yang muncul pada periode pasca bencana gempa di Jogja dan sekitarnya semakin menjadi-jadi dan bahkan sudah menunjukkan adanya modus operandi tertentu. Para pelaku kriminalitas ternyata memanfaatkan isu atau teror gempa susulan yang masih sangat dimungkinkan terjadi selama dua minggu ke depan (terhitung sejak hari pertama gempa, 27 Mei 2006).
Laporan dari warga yang masuk melalui GudegNet, terjadi tindakan sporadis di kampung-kampung daerah Sleman, seperti wilayah Tajem (dekat Jl. Lingkar Utara). Kejadian muncul biasanya pada tengah malam ketika para warga telah kelelahan berjaga-jaga dan secara tiba-tiba dengan membawa keributan suara dari raungan knalpot motor, ada orang yang tidak bertanggungjawab berteriak "Gempa! Gempa!" ...
Tak urung para warga segera terbangun dalam keadaan panik karena raungan motor dan teriakan "peringatan" gempa. Mungkin harapan dari oknum tersebut adalah para warga berlarian di tengah malam yang gelap gulita karena listrik masih padam sehingga mereka meninggalkan rumah dalam keadaan kosong. Tapi warga telah mensinyalir adanya "drop-dropan" kelompok maling atau pencuri di berbagai wilayah di Sleman, seperti yang terjadi di Bantul, sehingga mereka tetap siaga dan tidak mudah untuk termakan isu gempa susulan tersebut.
Namun bagaimanapun juga, daya tahan warga terhadap tekanan demikian tidak dapat bertahan lama. Serangan dan tekanan secara psikis terjadi bertubi-tubi dari isu gempa susulan, keributan tiba-tiba, teriakan gempa, drop-dropan maling, hingga media-media massa yang bersikap oportunis dalam pemberitaan bencana gempa di Jogja dan sekitarnya ini.
"Saya memang terus dengerin radio dan nonton televisi, mas. Lha wong saya takut kalau nanti ada gempa susulan beneran. Orang-orang khan bilang gitu lewat radio," kata Sigit Purnomo (25) sambil menyebutkan salah satu radio dan televisi swasta yang terus-terusan memberitakan berbagai macam isu gempa susulan.
"Kita sudah lapor ke kantor polisi. Tapi pas malam itu, yang jaga di pos cuman dua orang petugas. Mereka bilang tidak bisa meninggalkan pos untuk melakukan pengecekan keamanan di kampung-kampung," keluhnya kemudian.



Kirim Komentar