Membludaknya jumlah korban jiwa akibat gempa bumi tektonik yang melanda Jogja
(27/05) membuat banyak rumah sakit di Jogja kerepotan menerima pasien dalam tempo
yang relatif singkat. Bayangkan saja, gempa sebesar 5.9 SR yang mengguncang Jogja
terjadi pada pukul 05.53 WIB, tak lama sesudahnya, sekitar pukul 06.15 WIB pelataran
rumah sakit-rumah sakit di Yogyakarta rata-rata sudah dipenuhi oleh korban yang
kebanyakan diangkut menggunakan kendaraan seadanya langsung dari tempat kejadian
bencana.
Begitu pula dengan yang terjadi di RS Bethesda yang terletak di Jalan Solo, Yogyakarta.
Bahkan saking banyaknya pasien yang menyemut di pelataran rumah sakit, dilaporkan
banyak sekali kendaraan para medis dan tenaga administrasi rumah sakit yang mendapat
emergency call supaya selekas mungkin ke rumah sakit, macet dan tak mampu masuk
menembus barikade massa dan pasien di pelataran rumah sakit. Belum lagi para relawan
yang satupun belum ada, kala itu. Alhasil tenaga rumah sakit pun mengusahakan
semaksimal mungkin pelayanan kepada para pasien yang sebetulnya ketika datang
sudah banyak yang meninggal dunia.
Bangsal dan kamar pasien yang masih kosong segera dialokasikan untuk para korban
gempa tersebut. "Hanya saja kalau yang semula bangsal untuk enam orang, kita optimalkan
menjadi sepuluh orang," demikian tutur Sis Wuryanto, staf RS Bethesda yang dalam
bencana ini diserahi tugas menjadi Data Center Officer.
Namun ketika akhirnya kapasitas kamar dan bangsal sudah tidak dapat dipaksakan
lagi, maka pihak rumah sakit akhirnya terpaksa memanfaatkan lorong-lorong, teras-teras
hingga beberapa gedung seperti aula dan tempat penitipan anak (TPA) untuk menerima
dan melayani pasien yang membludak ini. Namun meski demikian, toh pelayanan medis
yang diberikan rumah sakit tidak lantas menyurut, akan tetapi tetap menggunakan
standar pelayanan yang sama dengan pelayanan yang diberikan bagi pasien-pasien
rumah sakit pada umumnya. Belum lagi dukungan optimal dari para medik yang dalam
wawancara GudegNet dengan beberapa diantaranya menyebutkan bahwa rata-rata mereka
belum pulang ke rumah kecuali untuk berganti baju dan mandi saja.
Beruntung, para relawan pada akhirnya datang membantu.
Ratusan relawan dari berbagai lembaga swadaya, organisasi maupun instansi menyumbangkan
tenaga mereka untuk membantu pihak rumah sakit. Para relawan tersebut membantu
tak hanya dalam pengurusan penanganan pasien dan jenasah korban meninggal, namun
juga turut membantu hingga proses administrasi, logistik dan apapun yang memang
bisa diperbantukan.
"Para relawan itu datang sendiri-sendiri lalu akhirnya kita koordinasi supaya
lebih terarah. Hingga sekarang masih saja ada relawan-relawan baru yang datang
untuk membantu kami..." tutur Sis Wuryanto yang semalam menerima kami di ruang
kantor administrasi beserta para relawan yang sibuk mendata pasien. Ketika disinggung
soal biaya, ia menyebutkan bahwa hingga saat ini RS Bethesda menggratiskan layanan
hingga betul-betul sembuh termasuk jika ada operasi yang perlu dilakukan. "Prinsip
kami adalah para pasien yang datang harus dilayani maksimal terlebih dahulu karena
ini kan berkait dengan nyawa manusia," jelas Sis Wuryanto tegas.
Lalu bagaimana nasib para pasien selain korban gempa yang berada di RS Bethesda
?
Hingga saat ini rumah sakit yang berhadapan langsung dengan Galeria Mall dan
Novotel Hotel tersebut masih menerima beberapa pasien umum, selain korban gempa.
Hanya saja dengan keadaan yang sangat sibuk seperti sekarang ini, para pasien
umum juga diberi informasi terlebih dahulu mengenai keadaan rumah sakit termasuk
di dalamnya adalah informasi mengenai penuhnya kapasitas kamar/bangsal yang ada.
"Namun beberapa dari mereka sudah mengerti terlebih dahulu sehingga mereka biasanya
memilih untuk menuju rumah sakit yang ada di luar kota saja, atau setidaknya kalau
memang dapat dilakukan, maka proses rawat inap diganti dengan tetap diam di rumah
melalui rawat jalan," ungkap Sis Wuryanto mengakhiri perjumpaan malam tadi.



Kirim Komentar